politik


bicarabaikMinggu lalu saya menulis sebuah opini non-komersial alias surat pembaca. Beberapa hari kemudian, surat tersebut dimuat di Pikiran Rakyat edisi Jumat, 19 Juni 2009. Berikut isi suratnya.

***

Rakyat Tahu Mana yang Harus Dipilih

Musim kampanye pada pemilu di tingkat mana pun hanya memberi satu pelajaran penting bagi masyarakat Indonesia. Disebut sebagai sebuah pelajaran karena hanya satu hal itu yang paling diingat oleh masyarakat. Yaitu, saling menjual pencitraan masing-masing (kandidat maupun partainya). Pelajarannya, yakni jangan terlalu percaya pada orang lain! Walaupun, orang itu orang terhormat sekaliber calon presiden dan wakil presiden.

(lagi…)

sbyMoal menang sia teh! (Gak bakal menang kamu tuh!)” sembur salah seorang lelaki tua yang duduk di bangku depan. Ekspresi itu muncul ketika arak-arakan kampanye capres-cawapres Mega-Pro lewat datang dari arah berlawanan di Jalan Raya Padalarang. Bus Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) Maya Raya yang saya tumpangi berhenti beberapa saat karena macet yang diakibatkan arak-arakan itu. “Panas-panas kieu euh… (panas-panas begini)” tambah kondektur yang juga berdiri di depan sambil memperhatikan penyebab macet itu.

(lagi…)

Hasil akhir beberapa lembaga survey penyelenggara quick count menyatakan Partai Demokrat menang. Menurut Lembaga Survei Indonesia (LSI): 20,46 %, Lingkaran Survey Indonesia (LSI): 20,34%, dan CIRUS: 20,61%. Di berbagai daerah, versi LSI, Partai Demokrat selalu masuk di tiga besar. Berbeda dengan dua pesaing yang mengekor di bawahnya, Partai Golkar dan PDI-P. Misalnya, di Jakarta, Parati Golkar tak masuk dalam tiga besar terkalahkan PKS. Atau, di Papua, PDI_P tidak muncul sebagai tiga besar, terkalahkan partai baru berbasis agama, PKDI. Bahkan di Sumatra, PDI-P hanya muncul di beberapa provinsi sebagai tiga besar. (lagi…)

Akhirnya Pemilihan Legislatif terlaksana hari ini. Sebagai warga negara yang taat dan mendukung demokrasi agar lebih baik dan bersih, saya pun ikut pencontrengan. Ingat, sekarang contreng bukan coblos. Ya, saya juga tak tahu bagaimana rasanya mencoblos. karena ini kali pertama saya mengikuti pesta demokrasi dan kebetulan sistemnya telah diubah menjadi contreng, bukan coblos. Saya sekeluarga menentukan pilihan di TPS 06 Kelurahan Muka Kecamatan dan Kabupaten Cianjur. (lagi…)

Pemilu legislatif (pileg) hanya tinggal menghitung hari. Pada hari tersebut, masyarakat berbondong-bondong mendatangi TPS dan disuguhi kertas suara. Saya sangat penasaran dengan ekspresi mereka saat membuka kertas suara. Bagaimana ekspresi mereka  saat melihat deretan nama-nama partai politik (parpol), lambangnya, dan barisan nama-nama orang yang pasti sebagian besar tidak mereka kenal. (lagi…)