Jalan-jalan


2309tmbRabu, 30 September 2009

Bandung begitu panas. Terik matahari melumat sekujur tubuh hingga kulit serasa lengket, mungkin lain halnya dengan para mahasiswa yang kuliah di kampus ber-AC atau mahasiswa yang datang ke kampus dipulas dengan make-up khusus anti sinar-UV. Kuusap keringat di dahi. Kuperhatikan jam, menunjukkan pukul setengah satu. Kumenengadah, mendongak pada gagahnya sang surya dan ingat siang ini aku punya satu maksud baik.

(lagi…)

buburAda satu hal yang membuat saya tidak betah pertama kali tinggal di Bandung. Lantas saya jadi selalu ingin pulang ke rumah di Cianjur. Dan, alasannya hanya karena makanan untuk sarapan. Saya tidak mendapati makanan favorit saya di Bandung. Makanan itu adalah bubur ayam.

Orang Bandung tentu tak terima kalau Bandung dibilang tak punya tukang bubur ayam. Bubur ayam tersebar di mana-mana. Di pinggir jalan, di kantin kampus, dekat kosan, hingga kafe yang lebih elit. Dijual pagi hingga malam. Tapi sayang, bubur ayam Bandung tidak seperti bubur ayam yang selama ini saya kenali.

(lagi…)

(Feature Perjalanan Wisata Manuskrip)

Oleh : Reza Sukma Nugraha

Adalah sebuah pohon bernama cangkuang yang telah mengilhami nama sebuah desa di utara Kabupaten Garut, Jawa Barat. Desa dengan kondisi geografis khas dataran tinggi ini adalah salah satu dari sekian banyak objek wisata di Tatar Parahyangan. Setidaknya, terdapat tiga objek yang memesona para wisatawan untuk berkunjung ke desa ini. Candi Cangkuang, makam Embah Dalem Arif Muhammad, dan rumah adat Kampung Pulo. (lagi…)

jalananMasih ingatkan dengan catatan perjalanan ane ke Bengkulu di tulisan sebelumnya? Tulisan itu baru mengupas serunya melakukan perjalan 28 jam dari Bandung menuju Kota Bengkulu. Kali ini ane mau menawarkan kembali beberapa pesona Bengkulu hasil perjalanan ane kesana.

Yupz, dulu ane menceritakan perjalanan 28 jam menggunakan jalur transportasi darat. Mulai dari naik bus antar provinsi di Jalan Soekarno Hatta Bandung, kemudian masuk jalan tol Cipularang, Jakarta, dan tol Merak. Kemudian nyebrang dengan feri. (lagi…)

pantaiSiang itu hujan begitu lebat. Ane berdiam di kamar. Memandangi jendela kamar yang tak terlalu mengkilap. Menulis buku harian akhirnya menemui jalan buntu. Jadi, ane putuskan untuk berbaring di atas kasur dengan spray bermotif Manchester United. Tak bisa terpejam, demikianlah perasaan saat itu. Tiba-tiba mata tertuju pada sebuah aksesoris gantungan kecil berbentuk bunga bangkai. Aksesoris itu adalah pemberian seorang sahabat dari kampung halamannya, yaitu Bengkulu. Karena bunga bangkai atau Raflesia arnoldi itu berasal dari Bengkulu.

Bicara mengenai Bengkulu, ane pun ingat beberapa bulan yang lalu. Saat libur akhir semester genap, ane liburan ke Bengkulu. Sebuah provinsi yang terletak di Pulau Sumatra. Jadi, saat itu adalah pengalaman pertama ane melintas ke luar Pulau Jawa. Dari Bandung, ane memakai transportasi darat, yaitu bis lintas provinsi. Sengaja, ane tak menggunakan pesawat, karena (lagi…)

taman bungaWah pagi hari dunia masih terasa segar. Nafas begitu jernih terasa. Apalagi sambil memandang ke arah barat, pemandangan Gunung Gede. Begitulah kira-kira yang akan kita rasakan dan decak kagumkan saat berada di kota Cianjur. Hari ini, saatnya bertualang menjelajah kawasan padat wisata, yakni kawasan Cipanas Puncak. Di pusat kota, kita hanya tinggal menaiki sebuah angkot berwarna biru tua jurusan Cianjur-Cipanas. Di Cipanas, kita hanya memilih, kemana kita akan pergi?

Perjalanan dari Cianjur ke Cipanas membutuhkan waktu hanya satu jam. Tepatnya, kita akan melaju ke arah barat satu arah dengan perjalanan menuju Bogor dan Jakarta. Pemandangan yang terasa indah adalah Gunung Gede yang menjulang dengan gagah. Semakin mendekati Cipanas, serasa kita semakin mendekati Gunung Gede. (lagi…)

1177396811_gede-dari-mandalawangi2Hari ini, pemerintah Kabupaten Cianjur menyatakan memberhentikan kegiatan evakuasi korban longsor. Padahal diduga masih ada dua korban lagi yang belum ditemukan, salah satunya anak kecil berusia 3 tahun bernama Pia. Miris juga hati ane selaku warga Cianjur yang baik. Kejadian itu terjadi pada Kamis, 13 November lalu. Memang longsor bukan hal yang aneh bagi warga Cianjur. Bukan karena sering, cuma melihat kondisi geografisnya yang tersiri dari bukit-bukit dan juga gunung-gunung. Apalagi di Cianjur Utara, tempat ane tinggal.

Sebelum merayap ke zona yang makin lama, makin gak penting, ane mau mengucapkan turut berbela sungkawa atas musibah yang menimpa warga yang juga tetangga ane, tanah kelahiran ane tercinta. Semoga arwah para korban diterima di sisi Yang Maha Kuasa. (lagi…)