gaya hidup


temanSeorang teman datang menghampiri ane yang lagi duduk sendiri. Di pojok kampus mesjid kampus (Jangan ngucapin subhanallah, ya!). Awalnya ane lagi memandangi orang yang lalu lalang. Diam. Berdzikir. Berdzikir = ingat. Jadi, maksudnya ane lagi dalam keadaan ingat. Tidak gila. Teman itu pun menyapa. “Hay!” Lalu ane menjawab sekenanya, “Woy, bos!” Mengapa sekenanya? Karena ane tak terlalu kenal dekat dengannya. Ane kenal, waktu dulu Ospek pas masuk kampus ini.

Setelah terjadi perbincangan yang cukup alot. Hingga akhirnya ia duduklah di dekat ane. (lagi…)

Tadi ane bercengkrama dengan salah seorang teman. Ia pakai t-shirt, jeans belel, dan topi. Pertama liat, ia agak menekuk dahi. Wah, nampak sedang bad taste alias BT. Namanya Eyk. Agak sedikit males, ane bertanya, “sedang apa?”

Ia menjawab. Cukup panjang dan rumit apa yang dikatakannya. Yang jelas, dia sedang bokek dan hendak pulang ke rumahnya untuk munggahan. Kasihan juga. Ia mengaku tak punya uang sepeser pun. Aku agak merogoh kantong. Sama saja, kurang lebih sama. Ane juga lagi defisit alias ma fiih fulus.

Kemudian, Eyk mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebatang Dji Sam Soe. Diambilnya pula korek api gas. Pushhh, api tersulut dan asap mengepul. Tiba-tiba rasa kasihan ane pudar. Kok bisa-bisanya ngerokok, padahal katanya tak punya duit.

“Eta bisa ngaraokok?” — Itu bisa merokok. Aku tanya heran sambil agak jengkel.

“Nya, rokok mah moal bisa absen atuh,” — ya, kalau masalah rokok, ngga bisa absen. Selorohnya santai.

“Cenah teu boga duit?” — Katanya nggak punya uang.

(lagi…)

Malam itu, ane hendak mengunjungi kasur untuk bermanja-manjaan dengannya. Saat itu, ane memang sedang ada di rumah. Tiba-tiba sebuah suara memanggil, ternyata abah. Abah minta dibelikan rokok. Sampoerna kretek, pinta beliau. Bergegas kaki melangkah. Dan, tak kurang dari lima menit, ane kembali ke rumah dan memberikan rokok tersebut.

Ema terlihat sedikit jengkel. Raut mukanya seolah menahan sesuatu untuk diucap. Mungkin ema ingin berkata, “Meuni bandel bapak maneh teh!” –Bandel banget, bapak kamu tuh! Ibarat menjawab apa yang hendak ema katakan, ane berkata. “Tenang, Ma. Bentar lagi rokok kan haram kata MUI,” celetuk ane yang tak sadar mungkin akan terjadi perang dunia ketiga akibat celotehan ringan itu.

Satu. Dua. Tiga.

“Ah, teu haram.” — Ah, nggak haram. Tiba-tiba abah bersuara.

“Kata MUI.” Ane menegaskan. Takut dikira ane yang berijtihad sendiri.

“Dari dulu, hukumnya jelas. Makruh.” Dingin.

“Tapi, kan, ini fatwa MUI. Memang baru keluar. Itu sebagai antisipasi agar anak muda dan anak yang di bawah umur menghindari rokok. Lagi pula itu kan sangat besar manfaatnya, terutama menyelamatkan para perokok pasif yang selalu jadi korban.”

“Eh, ieu mah. Dari dulu para ulama sudah megatakan rokok itu makruh. Toh, guru abah juga dulu kalau ngajar sambil merokok. Kata siapa banyak manfaatnya (dengan berlaku fatwa haram), coba lihat nasib para pekerja yang lahannya dari rokok. Para pekerja pabrik rokok, penjual rokok eceran, dan petani tembakau.”

“Tapi, bagus lah.” Ane mengatur emosi. Sedikit menghentikan perdebatan. Toh, ane sangat malas berdebat dengan abah. Terlalu lemah. Beliau terlalu jago. Jago ngomong. Biarlah, ane terlihat kalah.

“Kalau rokok haram. Gaji karyawan pabrik rokok haram. Warung yang jual rokok haram. Bahkan yang nerima bea sisiwa dari pabrik rokok juga haram.”

Drrrrrrrrrrrrrrrrrt. Bea siswa? Aw, aw,aw. Kata terakhir cukup membuat ane tertegun. Apa iya, haram. Bukannya ane sedang mengajukan beasiswa ke salah satu produsen rokok? Oh, relakah ane membatalkannya hanya karena rokok haram.

Terlalu rumit. Kalau bicara dengan ustadz, semuanya jadi salah, Jelas-jelas sesuatu yang mematikan masih boleh dikonsumsi. Setidaknya status makruh cukup membuat bahwa rokok itu tak layak dikonsumsi. Makruh itu dibenci Allah. Mau ya, Pak Ustadz dibenci Allah?

Mungkin terlalu banyak orang tau bahwa rokok mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida.

  • Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru.

  • Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker paru-paru yang mematikan.

  • Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.

Terus ane buka lagi artikel yang semapt ane baca waktu ikut rapat di Lembaga Pencegahan Penyakit Akibat Merokok (LP2AM), konon katanya efek racun pada rokok ini membuat pengisap asap rokok mengalami resiko (dibanding yang tidak mengisap asap rokok):

  • 14x menderita kanker paru-paru, mulut, dan tenggorokan

  • 4x menderita kanker esophagus

  • 2x kanker kandung kemih

  • 2x serangan jantung

Rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan gagal jantung, serta tekanan darah tinggi.

Dan, yang lebih serem lagi walaupun kita nggak merokok, kita masih menghisap asap rokok dari perokok alias merokok secara pasif (passive smoking). Dibanding dengan asap aliran (mainstream smoke), asap aliran sisi yang keluar dari puntung rokok (mainstream smoke) mengandungi :

  • 2 kali lebih banyak nikotin

  • 5 kali lebih banyak karbon monoksida

  • 50 kali lebih banyak kimia yang menyebabkan barah

  • 3 kali lebih banyak tar

Ooooh, apa itu tak terlalu menakutkan. Sekali lagi. Perokok pasif lebih berisiko terkena penyakit pernafasan dari pada si perokok aktif tersebut. Mungkin hal seperti ini cuma gertakan yang tak menggoyahkan pikiran “pria-pria” macho disana. Sok lah, mangga. Sami wae da bencong salon ge ngararoko.

Rokok. Sebatang lilitan tembakau. Pelan-pelan, merasuki organ makhluk lain. Meracuni. Merusak. Kemudian, membunuh. Merokok berarti membunuh pelan-pelan. Menjual rokok berarti memfasilitasi orang tuk membunuh. Meminjamkan korek pada orang yang hendak merokok berarti sama-sama memfasilitasi. Dan, kata teman ane yang kuliah di jurusan tetangga, “Membunuh itu haram.” Ayolah, bebaskan Indonesia dari asap rokok. Indonesia Merdeka, Bung!

Perkenalkan neh. Nama ane Ido, umur masih abege lah, 19 tahun. Kuliah di Universitas IAIN Negeri –disingkat UIN– jurusan Bahasa dan Sastra Asing –disingkat BSA. Ane semester lima, tapi entah berapa tahun lagi ane bisa keluar dari kampus ini. Apalagi setiap hari ane berkutat dengan bahasa Arab –salah satu bahasa asing yang ada di dunia. Asing? Maka dari itu, ane pilih jurusan ini. Sekali lagi : Bahasa dan Sastra Asing. Kalau disingkat jadi BSA.

Karena kampus ane adanya di Bandung, makdarit, atau maka dari itu, ane tinggal di Bandung. Sebenarnya seh asli Cianjur. Tapi sekali lagi, karena kampus ane di bandung berarti ane tinggal di Bandung. Tinggal di sebuah kamar kos, bukan pesantren ya! Awalnya seh dipaksa musti ke pesantren. Katanya untuk membantu pemahaman bahasa asing yang ane pelajari di jurusan ane. Tapi, ane kapok –punten rada kasar– tinggal di pesantren. Dulu pernah mesantren, makdarit, ane bisa bilang kapok tinggal di pesantren.

Niat babeh ema seh alus banget. Apalagi yang dipelajari kitab kuning atau yellow book (?), pasti babeh seneng banget. Secara babeh ane orang NU. Bukan NU, tapi Islam. Islam, tapi NU. Nah, itu mungkin yang enak. Di pesantren, konon kualitas religiusitas kita akan tumbuh dengan baik. Ngaji, belajar tepat waktu, solat jamaah, taat pada kyai, dan kebersamaan dengan teman-teman. Tapi banyak juga ‘oknum’ yang memudarkan persepsi tersebut dengan ghasab, tindak pencurian, pacaran terselubung, sampai kejahatan kelamin. Belum lagi pola hidup yang kurang terbina : ngubek-ngubek air bak mandi, ke kamar dengan kaki ledug alias kotor, sampai kasur yang nggak pernah dijemur sampai melahirkan ekosistem di dalamnya.

Oleh karena itu, citra pesantren di mata ane –sendiri– udah terlalu buruk. Bukan maksud mempengaruhi. Toh ini sekedar argumentasi. Ini setidaknya yang ane alami. Makdarit, ane katakan ‘tidak’ pada pesantren. Biar di Bandung, ane tinggal di kosan saja. Insyaallah jaga diri. Insyaallah!

Di kosan jauh lebih enak dari pesantren. Sekali lagi, setidaknya itu yang ane alami. Lebih memacu diri untuk mandiri dan disiplin. Tanpa gertakan. Tanpa aturan. Berbekal didikan ema babeh, ane bertarung dengan waktu dan hawa nafsu. Ke mesjid, itu untuk shalat jamaah. Biasanya yang populer di kosan itu magrib. Kalau di kampus itu Dzuhur dan Ashar. Tapi ya, dibiasakan juga shubuh dan isya.

Kos, enak menyebutnya. Cuma satu kata. Satu suku kata. Satu helaan nafas. Tapi tiga hurufnya. TInggal di kos itu enak. Mandi bebas. Tidur tanpa batas waktu. Makan juga bebas, sebenarnya. Tapi urusan perut itu lain lagi perkaranya. Bebas tergantung sikon. Di kala hidup terhimpit krisis, maka nasi menjadi barang langka yang susah mendapatkannya. Enaknya juga, di kos itu bebas berekspresi tanpa gangguan individu lain. Nulis, gak ada yang ganggu. Baca, gak ada yang muji. Nangis, gak ada yang ledek. Telanjang, gak ada yang teriak. Bahkan tertawa-tawa sampai gila, gak ada yang nyembuhin. Saking privatnya kos.

Tapi semua itu sangat relatif. Toh, saat jari ini mengetik, ane lagi merindukan kos. Sedari siang ane berkutat dengan manusia. Malam ini ane harus menulis berita untuk naik cetak besok. So, ane rindu kos. Otomatis, yang ada di benak ane cuma kos. Kasur. Tidur.