Dimaafkan

Ada satu hal yang sulit sekali dilakukan, tapi sebetulnya bakal terasa membahagiakan jika sudah dilakukan, yaitu memaafkan. Jika meminta maaf itu terasa sangat sulit diucapkan, tapi memaafkan tak cuma butuh kesiapan mulut untuk mengucapkan, tapi juga perlu ‘kesiapan’ dari hati untuk lapang menerima dan menghapus kesalahan orang. Kalau di film A Moment to Remember dikatakan, memaafkan adalah memberi sedikit ruang pada kebencian, maka ruang yang sedikit itu sebetulnya akan terasa sangat berharga hingga sayang untuk diberikan begitu saja pada orang yang membenci kita.

Hap. Ya, begitulah prolog dari tulisan ini. Bukan maksud menyaingi Pak Mario Teguh, tapi betul bahwa itu yang ingin saya sampaikan. Tentang memaafkan seseorang yang entah kenapa begitu membenci dan tak ingin melihat wajah kita sekali pun. Memaafkan orang yang sudah sekian lama menjaga jarak dari saya sendiri. Dua hari lalu, saya memaafkan seorang lewat kata-kata. Ya, memang saat itu berlangsung seremoni maaf-memaafkan. Saya memang tidak memberi maaf itu dari dulu karena merasa tidak ada yang perlu dimaafkan dan tidak menganggap dia perlu meminta maaf kepada saya atas sebuah kesalahan. Ah, sudahlah. Yang jelas, memaafkan itu membahagiakan.

***

Dia yang saya bicarakan adalah seorang teman waktu masih satu kampus dulu. Sebut saja Bunga. Hmmm, perasaan gak cocok ya cowok namanya Bunga? Sebut saja Fulan, karena dia laki-laki. Saya merasa tidak punya masalah yang serius dengan dia. Sejak awal masuk kuliah, saya gak terlalu dekat dengannya. Bicara seperlunya, bercanda pun enggak pernah. Jadi, potensi buat bikin dia sakit hati pun tampaknya sedikit. Untuk urusan akademik, dia memang pintar, menurut saya. Tapi, enggak tahu kenapa memang hasil akhirnya selalu di bawah saya. Oke, itu bukan poin penting dan saya gak permasalahkan itu.

Semester berikutnya sikap Fulan terlihat semakin ‘aneh’ di depan saya. Dia gak pernah nyapa. Kalau dalam sebuah kumpulan ada saya dan dia di dalamnya, maka dia akan mengajak bicara semua orang kecuali saya. Bahkan dia pernah membawa seluruh teman di kelas buat datang ke tempat dia tanpa mengajak saya. Oke, lagi-lagi bukan masalah bagi saya. Tapi, konflik muncul ketika saya mendengar langsung dia membicarakan saya di depan teman-teman. Tentu, saya dengar secara gak sengaja di belakang dia. Inti dari perkataan dia bahwa saya ini orang yang sombong dan ambisius. Dan, saya ingat betul ketika dia bilang, “Pokoknya, gue harus lebih unggul dari dia. Meski bukan pas kuliah, tapi suatu saat.” Okesip. Itu gak ngasih efek apa-apa buat saya, tapi sejak saat itu saya jadi lebih mudah menunjukkan sikap antipati sama dia. Ditahan-tahan, dibuat-buat seperti gak ada apa-apa, tapi tetap saja gak bisa.

***

Ahad dua hari lalu, saya datang ke resepsi pernikahan teman sekelas dulu. Wah, kebayang kan, semua teman sekelas pasti pada datang ke acara itu. Ternyata benar. Banyak teman lama saya datang, tak terkecuali si Fulan. Karena sudah berselang lebih dari dua tahun, maka saya pun berusaha bersikap biasa saja sama dia. Tapi, sayangnya, sikap dia tidak berubah. Okelah, saya gak berusaha mempermasalahkan apa-apa. Toh, tanpa dia, saya tidak akan jadi butiran debu (#NP – Rumor : Butiran Debu).

Saya agak terkejut saat melihat dengan siapa Fulan datang. Dia menggandeng seorang perempuan. Sebut saja Bunga (hmmm, tetep ya ngebet sama nama ‘Bunga’). Bunga kelihatan senyum-senyum kikuk sama saya. Saya sih senyum biasa aja, apalagi menanggapi cerita Fulan saat ngumpul-ngumpul bareng temen sekelas. Saya yang merasa hambar di tengah-tengah obrolan mereka, dengan khusyuk menyimak ucapan Fulan yang terdengar tendensius. Ah, saya menjaga agar tidak berpikiran negatif. Berusaha husnuzhan kalau Fulan bukan menyindir saya.

“Wah, siapa selanjutnya nih yang kawin?” kata seorang teman. Pasti isu ini yang dilempar kalau reunian di tempat nikahan teman.

“Gue dong. Kalau udah ada calon yang ideal kayak dia, kenapa harus ditunda,” kata Fulan sambil melirik Bunga. “Gue gak mau kecurian start lagi. Masa gue harus dilewatin mulu. Saingan pas kuliah kan cuma ngerebut nilai. Yang penting justru setelah kuliah, siapa yang lebih sukses duluan,” lanjutnya.

Fulan begitu bangga mengenalkan Bunga sama teman-teman. Dia bilang Bunga mahasiswi kedokteran. Dengan bangga, dia lagi merintis usaha bareng di Jakarta di bidang fashion. Dia mengimpor baju-baju dari luar negeri katanya sehingga dia biasa bepergian ke luar negeri. Semua teman ikut bangga dengan “keberhasilan” Fulan, meski saya gak tahu indikasi keberhasilannya sebelah mana? Oh, mungkin “punya calon istri” itu lebih berhasil dibanding “single” (Siapa yang single? Siapa?!?! *sambil nunjuk dada*). Oh, mungkin “punya usaha” lebih berhasil dibanding “sekadar kuliah doang”. Oh, mungkin “sering keluar negeri” itu lebih berhasil dibanding “cuma keluyuran di Bandung pake angkot”. Okesip, saya akui kalau gitu dia lebih berhasil dari saya.

Tapi, saya senyum-senyum aja pas kita semua sudah beranjak akan pulang dari resepsi pernikahan. Kami saling bersalaman. Ketika saya berpamitan sama Bunga, saya bilang, “Sampai ketemu, ya. Sukses buat acaranya minggu depan itu!” Gak banyak yang memperhatikan kalau saya bisa ngobrol sama Bunga. Cuma ada beberapa teman, termasuk si Fulan sendiri kelihatan agak kaget ketika saya nyapa dan bicara gitu sama Bunga. Wah, saya santai aja. Pas pulang, ada beberapa teman nanya apa saya kenal Bunga, saya sih gak kasih komentar apa-apa.

Saya cuma ingat Jumat lalu pas ngobrol via Yahoo Messenger (YM) sama Bunga. Bunga yang saya kenal waktu mengikuti sebuah workshop penulisan di Jakarta tahun lalu memang agak sering berkomunikasi sama saya. Nah, saya tahu Bunga bakal ngadain sebuah acara di fakultasnya minggu depan. Jumat lalu pas saya ngobrol via YM, Bunga bilang kalau hari Ahad, dia bakalan ke Bandung. Dia bilang mau ke nikahan temennya temen dia. Dia juga bilang kalau dia mau pura-pura jadi pacar temennya karena temennya memohon-mohon ke dia, katanya.

Dan, pas hari Ahad, saya tahu siapa teman yang dimaksud oleh Bunga. Saya sih adem ayem aja sampai akhirnya kemarin pagi, ada SMS dari nomor yang gak saya kenal. “El, ini Fulan. Gue minta maaf ya buat semua sikap gue ke lu dari dulu.” Saya sih senyum-senyum aja sambil balas SMS dia, “Ya, gue maafin.”

38 thoughts on “Dimaafkan

  1. haduuuhhh…
    kebayang betapa pusing dan kerasnya usaha si fulan itu membuat orang terkesan,padahal pikiran2 buruk tentang saingan dan yang lain itu ya cuma dipikirannya aja..
    begitukan cow?merasa harga dirinya sudah dikalahkan maka akan melakukan apapun?
    cowok duhai cowok.. *saya gak sebut lelaki karena lelaki tak mungkin sebodoh itu :mrgreen:*

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s