Mobil Jenazah

Tiap yang bernyawa, pasti akan merasakan mati — Q.S. Ali Imran: 185

Hari ini, saya mau ceritain seorang teman lagi. Pikiran buat ceritain dia bermula dari dia sendiri. Tadi pagi, pas saya lagi lihat-lihat orang wisudaan di kampus, ada nomor tak dikenal menelepon. Asalnya was-was buat ngangkat, tapi ternyata yang menelepon teman lama saya. Namanya Ardi. Biar lebih dramatis, saya samarkan saja namanya jadi Abi. (Laaa, nama aslinya disebut, kenapa disamarin, ya?)

Abi itu orang Bengkulu. Dulu, dia pernah tinggal lama di Bandung. Niatnya cari kerja, mulai jadi pekerja di meubel, sales, sampe jadi sopir angkot. Padahal usianya cuma beda beberapa tahun sama saya. Kesimpulannya, masih muda lah, ya. Nah, sekarang ternyata Abi sudah kerja di Rumah Sakit di Seluma, Bengkulu Selatan. Awalnya saya kaget, kirain dia jadi dokter. Eh, ternyata dia jadi sopir mobil jenazah. WOW, keren! Itu kesan pertama dari saya. Bisa-bisanya memilih pekerjaan yang sangat mulia itu.

Pertanyaan yang paling pertama saya tanyakan ke dia adalah, “Apa kamu gak takut nganterin jenazah ke mana-mana?” Dengan lantang, dia jawab TIDAK. “Lah, kenapa harus takut? Masa orang meninggal ditakuti?” ujarnya sambil malah nuduh kalau saya penakut. Ya, padahal saya cuma menegaskan aja. Gak nyangka kalau dia mau pilih pekerjaan yang pasti kalo saya gak mau pilih pekerjaan itu. Bukannya penakut, tapi ya karena saya gak bisa nyetir mobil. Jadilah, gak mungkin saya pilih pekerjaan kayak gitu.

Dia juga cerita banyak suka dukanya jadi sopir mobil jenazah. Setiap saat, dia dan seorang rekannya harus selalu stand by jika sewaktu-waktu ada orang meninggal dan perlu diantarkan dengan mobil jenazah. Kata dia, pernah suatu saat dia harus mengantarkan jenazah malam hari ke Lampung. Sedangkan tempatnya kerja itu di Seluma, Bengkulu Selatan. Jadilah dia harus rela menembus hutan Bukit Barisan di tengah malam dengan membawa jasad seorang manusia di belakangnya.

“Wah, aku terlanjur cinta sama kerjaan ini. Agama memang menganjurkan agar kita berteman dengan orang baik untuk jadi baik. Tapi, bepergian ke mana-mana ditemani jenazah, bikin aku jadi berteman baik sama jenazah. Dia ngajarin aku banyak hal, terutama yang bisa  bikin hidup lebih baik lagi,” kata Aby pas ditanya, apa pelajaran yang bisa dia ambil dari pekerjaannya. Okedah, Abi, selamat mengabdi!

33 thoughts on “Mobil Jenazah

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, Elfarizi…

    Fitrah sejati adalah membesarkan Allah dan Syariat-Nya di alam jiwa.
    Di dunia nyata, dalam segala gerak
    Di sepanjang nafas dan langkah
    Semoga seperti itulah diri kita di hari kemenangan ini.

    Selamat Hari Raya Idul Fitri
    Taqobalallahu minnaa wa minkum
    Shiyamanaa wa shiyamakum
    Minal ‘aidin wal faizin
    Mohon maaf lahir dan batin

    Salam Ramadhan dari Sarikei, Sarawak. :D

  2. huwaaa… pekerjaan yang emang luar biasa..

    jaid teringat dengan seorang kenalan aku yang mengajukan diri menjadi pengaja kamar jenazah.. katanya biar kerja nyari duit sekalian nyari pahala.. keren!

  3. Ms El gak ikut wisuda? :)

    Jadi sopir mobil jenazah?
    Benar2 uji nyali ya?
    Tapi kalau sudah sebuat profesi ya tidak bisa ditolak. :)
    Bersahabat dengan jenazah. ^_*

    Salam buat Mas Ardi ya? :)

  4. Biasanya supir mobil jenazah itu sangat mahir menyetir.
    Dan memang sepanjang saya berkenalan dengan mereka yang bekerja di PMI, khusunya supir mobil jenazahnya, terlihat dari akhlak mereka yang mulia dan termasuk orang yang taat beragama.

  5. hehehe…saya juga ga ambil itu el..karena saya selain ga bisa nyetir..juga ga cepat hapal jalan :D..bayangin aja kalau berjam2 keliling2 nyari alamat karena kesasar bareng jenazah hehehe.. saya ga takut kok #penegasan / #pencitraaan ? :D hehehe

  6. wow, itu pekerjaan keren…
    gak banyak orang yang mau ikhlas jadi sopir mobil jenazah kalau gak kepepet karena gak punya kerjaan

    lah ini si Abi malah sudah terlanjur mencintai pekerjaannya itu, keren dah, serius!

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s