Beranda sebelumnya, klik di sini.
Satu per satu penumpang turun. Posisi si Cowok yang muntah itu persis di depan pintu keluar. Jadi, setiap penumpang harus loncat untuk menghindar dari menginjak muntah yang berserakan itu. Aku masih menunggu giliran. Dan, selang berapa detik, cowok itu pun ikut turun dan aku menyusulnya dari belakang.
“Anjir! Mimpi apa gue semalam? Gini nih kalo orang kampung baru naik TMB,” umpat seorang anak muda yang kelihatannya mahasiswa. Kulihat, sepatu kets kirinya terkotori cipratan muntah. Padahal, persis di belakangnya ada si cowok muntah itu. Bagaimana perasaannya, ya? Aku menggumam berempati. Andai aku ada di posisi cowok itu.
Si cowok akhirnya duduk di bangku shelter, tampaknya ia beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya. Aku masih berdiam bersama beberapa penumpang yang tadi naik TMB yang sama. Ternyata sama denganku, mereka hendak berganti TMB. Dan, ternyata … akhirnya aku bisa melihat wajah si cowok itu. Kulit wajahnya sawo matang cenderung putih dan bersih. Kutebak umurnya masih sekitar 19 atau 20. Penampilannya aja yang terkesan formal dan terlalu kelimis. Rambutnya dibelah pinggir. Lesung pipitnya seketika timbul, tapi bukan akibat senyumnya. Ia tampak menahan lelah! Ah, ya … kenapa aku cuma diam. Bodoh! Tidakkah aku bersimpati padanya? Sedari tadi ia tidak mengeluarkan apapun, seperti minuman atau apa.
“A, sakit, ya?” Aku mulai menghampiri dan membuka tas.
Ia tampak kaget melihatku menghampirinya. Ia tersenyum. Kalau aku jadi cewek, pasti akan bilang, Ya, Tuhan, senyumnya manis juga. Aku mengeluarkan botol Aqua dan duduk di sampingnya. Matanya masih mengarah pada wajahku.
“Ah, enggak, kok … sepertinya memang masuk angin,” jawabnya lirih menahan sesuatu, seperti nahan mual atau sakit. Dan, cara dia menjawab tidak seperti orang Sunda. Logatnya beda, seperti orang … hmmm, mana, ya. Mungkin Sumatera atau malah orang Timur.
“Nih, minum dulu, Mas!” Aku menyodorkan minuman. Kali ini aku panggil dia ‘Mas’ bukan ‘Aa’ seperti di awal. Dia pasti bukan orang Sunda. Dan, panggilan ‘Mas’ terasa lebih universal untuk semua orang, tidak hanya untuk orang Jawa.
“Terima kasih,” ucapnya singkat. Tapi dia hanya tersenyum dan kembali menghela napas sambil menyenderkan bahunya ke belakang. Ia tampak sungkan.
“Gak apa, Mas. Gak usah sungkan. Atau … sebentar, ya, aku beli air minum yang baru,” aku langsung beranjak berdiri. Mungkin, ia ragu. Minumanku, kan, bekas aku minum. Masa iya, aku nawarin dia minum air bekas. Hah, betapa sopannya diriku!
“Oh, enggak, enggak usah, Mas …” Ia langsung menahanku untuk pergi, “Cukup, air itu saja,” lanjutnya sambil menunjuk botol minuman yang kupegang.
Aku diam tak banyak komentar lagi. Aku duduk kembali dan menyodorkan Aqua padanya.
Slurrrp …. Si Cowok kelimis itu meneguknya sedikit-sedikit. Aku hanya memerhatikan bagaimana ia minum. Keringat membasahi pelipisnya, sedikit air yang ia minum ikut membasahi dagunya. Seketika itu juga, perasaan jijik yang kurasakan seperti di TMB tadi hilang, berganti empati dan iba.
“Terima kasih, Mas ….”
Aku yang serius memerhatikannya jadi kaget. “Eh, iya. Kenapa gak dihabisin?”
“Wah, cukup, Mas. Nanti malah kebelet jadinya,” ujarnya sambil bercanda.
Wah, ternyata ia sudah mulai bisa lebih santai. Wajahnya memang masih terlihat pucat, tapi senyumnya terasa lebih segar sekarang.
“Udah agak baikan?” tanyaku lagi.
“Ya, lumayan. Sekali lagi, terima kasih ya, Mas,” katanya lagi terlihat sungkan.
“Udah, ah, jangan makasih terus, aku gak punya kembaliannya …,” ledekku lebih mencairkan suasana.
Dia hanya tersenyum. Tapi, ekspresinya kembali datar dan tampak lemas seperti tadi lagi.
“Loh, kenapa, Mas? Masih sakit ya …”
“Enggak, kok. Aku cuma malu dengan kejadian tadi.” Ia kembali tertunduk.
Aku diam sejenak. Aku semakin yakin kalau dia bukan orang Sunda atau mungkin baru di Bandung. Selain logatnya, gaya bicaranya masih kaku.
“Sudah …,” aku menepuk bahunya dua kali. “Gak usah malu. Itu, kan, bukan kehendak kita. Orang namanya sakit, siapa yang mau. Lagian kebanyakan dari mereka juga kasihan sama Mas, kok,” ujarku menghibur. Padahal, belasan pasang mata menatap si cowok itu tajam tadi.
“Oh, ya, Mas ini mau ke mana emangnya?” tanyaku lagi.
“Aku mau ke tempat saudara di Jatinangor,” jawabnya singkat.
Jatinangor? Lah, masih jauh donk. Berarti dia turun karena malu kalau terus diam di TMB. Hmmm, kasihan juga ….
“Memangnya tadi dari mana?” tanyaku lagi kayak wartawan.
“Aku ini dari Sumatera. Berangkat kemarin, sampai loket bis tadi siang, dan langsung ke Jatinangor.”
Tuh, kan! Bener dugaanku. Pasti dia bukan orang asli sini. Dari raut muka dan fisiknya juga kelihatan. Bukan maksud rasis dan membandingkan tingkat kecakepan antarsuku, tapi memang biasanya akan kelihatan bedanya antara orang Sunda dan bukan orang Sunda, terlepas dari cakep atau jeleknya, hehehe.
“Oh, dari Sumatera, tah? Dari mana emangnya? Terus ke Bandung baru pertama, ya?” Wah, tanpa sadar aku nyerocos memberondong dia dengan banyak pertanyaan. Untungnya cowok itu gak curiga, kita kan baru kenal, tapi aku udah pengen tahu banyak hal darinya.
“Palembang. Ya, baru kali ini. Aku diterima di Unjat, jadi aku ke sini untuk registrasi mahasiswa baru,” jelasnya.
Unjat! Universitas Jatinangor! Aku, kan, juga baru diterima di sana. Aku juga ke Bandung untuk registrasi. Wah, asyik, baru ke Bandung, langsung dapat kenalan!
“Oh, ya! Kebetulan donk, aku juga calon mahasiswa Unjat! Btw, Mas tadi turun di Leuwi Panjang, ya? Kok, gak naik bus Damri aja yang langsung ke Jatinangor?”
“Oh, ya. Ya, tadi aku turun di Lewi … eh, Lewi ….”
“Leuwi panjang!” sambungku cepat. Hihihi, dia gak bisa nyebut “leuwi” malah “lewi”.
“Hehehe, iya … tadi di terminal itu, kata petugas di sana, Damri lama, bisa naik TMB saja, dan disambung satu kali angkot di Gebe … eh, Gebege …” kata-katanya terputus.
“Gedebage!” sergahku langsung, seperti mengagetkan orang gagap.
“Hehehe, ya itulah, aku juga masih pusing,” jawabnya sambil senyum dan garuk-garuk kepala, malu. “Mas juga mau ke Jatinangor sekarang?”
“Oh, enggak. Aku tinggal sama saudara di Cibiru,” kataku sambil terus asyik memerhatikan tiga titik tahi lalat kecil yang menghiasi pipinya yang mulus.
Cowok itu tampak celingak-celinguk, melihat ke kanan dan kiri.
“Mas, aku hendak cari tempat makan dulu. Sejak kemarin malam, aku belum makan nasi, makanya masuk angin,” ujarnya sambil melihat ke arah warung Padang yang letaknya sekitar 100 m dari shelter.
“Oh, pantesan. Ya, silakan. Kalo gitu aku lanjut ya, tuh TMB barunya udah datang,” kataku agak berat. Sebetulnya, aku masih betah ngobrol sama dia.
“Mas enggak sekalian ikut makan. Aku traktir, kok, sebagai ucapan terima kasih,” tawarnya sambil senyum.
Wah, tawaran yang menarik! Aku lirik jam tangan, sudah jam 2.15. Padahal aku udah janji sama Dendi, mau cari kamar kos di Jatinangor. Kalau dibatalkan, aku gak enak. Soalnya demi janji ini, dia udah membatalkan acara bareng teman-temannya.
“Wah, sebetulnya aku sih masih pengen ngobrol. Tapi, aku udah ada janji sama sodaraku. Lain waktu aja, deh … maaf, ya!”
“Sudah, gak ada lagi penumpang?” Tiba-tiba petugas TMB berteriak sambil menyapu pandangan ke setiap sudut shelter.
Oh, Tuhan! Aku lupa kalau sudah ada TMB yang berhenti. Gak ada waktu buat menunggu TMB selanjutnya. Kasihan, Dendi sudah menunggu. Aku bergegas buru-buru berdiri menghampiri petugas karcis.
“Bentar, Pak. Masih ada!” seruku pada petugas.
Rona wajah petugas tiba-tiba berubah kesal. Biasa aja, deh, Pak, ekspresinya!
“Mas, sorry, ya, aku buru-buru. Hati-hati, jangan sampai masuk angin lagi, ya,” pesanku pada cowok itu sambil berlari kecil ke pintu TMB.
“Ya, terima kasih, ya!” jawab cowok itu sambil melambaikan tangan.
***
Bagaimana denganmu, apa pernah berbincang-bincang akrab dengan seseorang tanpa berkenalan terlebih dahulu?

Ping-balik: Beranda 13 : Tolongin Gue! « Catatan Elfarizi
Ping-balik: Beranda 12 : Cowok Itu Harus … « Catatan Elfarizi
Ping-balik: Beranda 11 : Dan, Ternyata … « Catatan Elfarizi
Ping-balik: Beranda 10 : Nasi Sudah Menjadi Bubur « Catatan Elfarizi
Ping-balik: Beranda 9 : Dendi! « Catatan Elfarizi
Ping-balik: Beranda 8 : Pulang, Jangan? « Catatan Elfarizi
Ping-balik: Beranda 7 : Futsal? « Catatan Elfarizi
Ping-balik: Beranda 6 : Anak Mami « Catatan Elfarizi
Ping-balik: Beranda 5 : Bila Pras …. « Catatan Elfarizi
Ping-balik: Beranda 4 : Mahasiswa Baru « Catatan Elfarizi
Ping-balik: Beranda 3 : Duh, Lupa! « Catatan Elfarizi
Ping-balik: Eksistensi dan Fungsi Fitrah Bagi Kehidupan Manusia « DEWA SASTRA
Q PERNAH…
pas lagi di kendaraan umum…
Ping-balik: Link Pendidikan, Tutorial, Tips dan Trik, dan Informasi Umum « DEWA SASTRA
kamu orangnya baik hati ya
ya pernah pas naik bis
Pernah dan sering kayaknya.
Untuk akrab memang nggak harus kenal lama.
Siapa tau kita ada dalam posisi orang tersebut.
lain kali makan dulu yaaaa
hahaha minta aquanya dong…!!
ada perkenalan tanpa nama,g kalah seru sama alamat palsu
jangan muntah sembarangan ya lain kali?? #lho,…
amazing n happy blogging
pernah jg, tp malah yang paling sering tuh aku dikira ank Bandung ato paling ga JawaBarat. gimana yak?
ditunggu posting lainnya soal beda ank Bandung, Sunda, Jawa Barat sama Jawa Timuran? #masihbingung
pertanyaan terakhir, jawabannya: gak…
Bagus!
kayaknya menarik buat diikuti nih, brur… nggak nyangka klu yg muntah itu si orang sumatra wkwkwk..
Kalau aku jadi cewek, pasti akan bilang, Ya, Tuhan, senyumnya manis juga. . .
#kak faris berubah jadi cewek ajja.
. piss. . .
hahaha … sekali lagi saya bilang ke komentator yaaa … ini fiksi, gak ada hubungannya dan jangan dikaitkan dengan penulis
ahahah. . .
ahir kata.
#dan penulispun sedikit marah. wkwkwkkwwk
hehehe … mana mungkin saya bisa marah, apalagi udah ditawarin obat jenuh sama Idah … maulaaaaah
siph gan antar sesama harus saling tolong menolong…
pernah gan tapi kejadianya di tempat kerja…
Aku sih agak parno kalau nerima sesuatu dari orang asing di tempat umum. Tp “si Aku” ini orang baik ya, buktinya cuma dia yang care… pasti itu kang Ridho xixixi
hush … ini FIKSI, gak ada kaitannya sama penulis hehehe
wow.. kisahnya menarik..
salam kenal mas bro.. kunjungan balik
Yo, thanks
nunggu lanjutannya bos…
yoyoyoyo
ijin nyimak aja sob …
Nyimak diizinkan
kalo di dunia nyata kayaknya masih susah ngobrol akrab sama orang asing kayak gitu. entah karena pada takut dijahatin atau karena memang 90% pasti orang asing yang ngajak2 ngobrol di tempat umum biasanya memang bermaksud jahat.
) aku pernah nerima permen dari ibu2 (tionghwa) di angkot gt. ibu itu juga nawar2in ke penumpang2 lain tapi gak ada yang mau nerima. aku ceritakan kejadian ke emakku, trus langsung dinasehatin supaya jangan suka nerima apa2 dari orang yang nggak dikenal. bagiku sih sebenernya orang gak perlu terlalu defensif sama orang/hal2 asing. tapi waspada, terutama di tempat umum, itu juga penting.
dulu waktu umur2 abege (ceila yang udah tua bangka
waspadalah…3x!
gak sabar nunggu kelanjutannya… lanjutgan.
Baik bener ya si aku… tp awalnya saya kira si aku ini cewek loh, eh ternyata cowok hehe. Keren kang!!! mantap, ditunggu kisah selanjutnya…
aku beberapa saat ketawa sendiri baca tulisan ini… keren… kayaknya pas ketemu di jatinangor harus dituliskan lagi nih.. hihih
salam hangat bukanperantau dari Dago
hehehe
makasih brader … ya, insya Allah di-update setiap malam kok
ok di tunggu bro…
hebat ya, baru kenal secara mendadak udah bisa akrab gitu
ngomong-ngomong nice story nih
hehehe … ya, tunggu update-nya tiap malam
Ehemmm Ehemmm Ehehmmm itu loch yang mesti digaris bawahi
senyumnya yang maniss =))
walaupun kau bukan parempuan, kelihatan loh rona wajah saat kau menyebut kata
Ya Tuhan, Senyumnya manis juga =))
Tenang Bang nanti juga ketemu dikampus d(^o^”)… trus bisa kenalan lagi hehehehe
ditunggu kelanjutannya ya
wiii … ini fiksi bang Eko, hehehe
jangan diasosiasikan dengan penulisnya hehehe
=))
oooo abisnya ceritanya masuk kedalam hati bang fariz, jadi saya berfikir ini keluar dari hati *hahaha
d(^o^”) – kau memang berbakat *fufufufufufu
hahaha, bagus deh … ada juga yang bacanya pakai hati.
Ini betul-betul bahan percobaan dan belajar, gak tahu deh, jalan ceritanya nyambung apa kagak hehehe
cerita yang asik zie,, mantab,,
yooo, makasi bang Rio
Whaaat? What? Emang kenapa orang Sumatra? Banyak koq yang ganteng. Buktinya saya bisa dapet istri orang Sunda.
hahaha, rupanya ada orang Sumatra … perlu digaris bawahi, ini bukan soalnya fisik lho, entar jatohnya rasis lagi … tapi maksudnya, biasanya ada orang yang bisa ngerasin apakah orang lain itu suku yang sama atau tidak lho … semacam aura hahaha #geje
wah asik kenalan yang tak terduga, el baik banget sih
, hehehe bukan minta ni HP
wah … itu fiksi belaka hehehe
Lagian itu kan itu kan cowok
ehehehe

emang kalo minta no hp sesama cowok ga boleh yah
kan buat silaturrohim
nih di cijerah banyak kostan tapi jauh dari jatinagor
hahaha … cijerahnya deket MAN 1 ya? heuheuheu
iya deket banget malah
kenapa tahu el?
ah curiga nih diem-diem
Hahaha, kemarin kan saya lihat kang Darwis di bawah fly over Cijerah haha
#ngaco
hahaaha
emaang kelihatan ya
wkwkwkwk
tapi ngomong-ngomong di cijerah ga ada fly over
waaah, emang sejak kapan dipindahin ke Kopo fly overnya??? jalan layang Cijerah …
oh itu sih orang sini bilang jembatan cinta, hahahaha
hahaha … aya-aya wae
“Udah, ah, jangan makasih terus, aku gak punya kembaliannya …,”
hahahahahaa. sempet2nya aja ngelawak
hehehe