Beranda 2: Perkenalan Tanpa Nama

Beranda sebelumnya, klik di sini.

Satu per satu penumpang turun. Posisi si Cowok yang muntah itu persis di depan pintu keluar. Jadi, setiap penumpang harus loncat untuk menghindar dari menginjak muntah yang berserakan itu. Aku masih menunggu giliran. Dan, selang berapa detik, cowok itu pun ikut turun dan aku menyusulnya dari belakang.

“Anjir! Mimpi apa gue semalam? Gini nih kalo orang kampung baru naik TMB,” umpat seorang anak muda yang kelihatannya mahasiswa. Kulihat, sepatu kets kirinya terkotori cipratan muntah. Padahal, persis di belakangnya ada si cowok muntah itu. Bagaimana perasaannya, ya? Aku menggumam berempati. Andai aku ada di posisi cowok itu.

Si cowok akhirnya duduk di bangku shelter, tampaknya ia beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya. Aku masih berdiam bersama beberapa penumpang yang tadi naik TMB yang sama. Ternyata sama denganku, mereka hendak berganti TMB. Dan, ternyata … akhirnya aku bisa melihat wajah si cowok itu. Kulit wajahnya sawo matang cenderung putih dan bersih. Kutebak umurnya masih sekitar 19 atau 20. Penampilannya aja yang terkesan formal dan terlalu kelimis. Rambutnya dibelah pinggir. Lesung pipitnya seketika timbul, tapi bukan akibat senyumnya. Ia tampak menahan lelah! Ah, ya … kenapa aku cuma diam. Bodoh! Tidakkah aku bersimpati padanya? Sedari tadi ia tidak mengeluarkan apapun, seperti minuman atau apa.

“A, sakit, ya?” Aku mulai menghampiri dan membuka tas.

Ia tampak kaget melihatku menghampirinya. Ia tersenyum. Kalau aku jadi cewek, pasti akan bilang, Ya, Tuhan, senyumnya manis juga. Aku mengeluarkan botol Aqua dan duduk di sampingnya. Matanya masih mengarah pada wajahku.

“Ah, enggak, kok … sepertinya memang masuk angin,” jawabnya lirih menahan sesuatu, seperti nahan mual atau sakit. Dan, cara dia menjawab tidak seperti orang Sunda. Logatnya beda, seperti orang … hmmm, mana, ya. Mungkin Sumatera atau malah orang Timur.

“Nih, minum dulu, Mas!” Aku menyodorkan minuman. Kali ini aku panggil dia ‘Mas’ bukan ‘Aa’ seperti di awal. Dia pasti bukan orang Sunda. Dan, panggilan ‘Mas’ terasa lebih universal untuk semua orang, tidak hanya untuk orang Jawa.

“Terima kasih,” ucapnya singkat. Tapi dia hanya tersenyum dan kembali menghela napas sambil menyenderkan bahunya ke belakang. Ia tampak sungkan.

“Gak apa, Mas. Gak usah sungkan. Atau … sebentar, ya, aku beli air minum yang baru,” aku langsung beranjak berdiri. Mungkin, ia ragu. Minumanku, kan, bekas aku minum. Masa iya, aku nawarin dia minum air bekas. Hah, betapa sopannya diriku!

“Oh, enggak, enggak usah, Mas …” Ia langsung menahanku untuk pergi, “Cukup, air itu saja,” lanjutnya sambil menunjuk botol minuman yang kupegang.

Aku diam tak banyak komentar lagi. Aku duduk kembali dan menyodorkan Aqua padanya.

(sumber: www.bisnis-jabar.com)

Slurrrp …. Si Cowok kelimis itu meneguknya sedikit-sedikit. Aku hanya memerhatikan bagaimana ia minum. Keringat membasahi pelipisnya, sedikit air yang ia minum ikut membasahi dagunya. Seketika itu juga, perasaan jijik yang kurasakan seperti di TMB tadi hilang, berganti empati dan iba.

“Terima kasih, Mas ….”

Aku yang serius memerhatikannya jadi kaget. “Eh, iya. Kenapa gak dihabisin?”

“Wah, cukup, Mas. Nanti malah kebelet jadinya,” ujarnya sambil bercanda.

Wah, ternyata ia sudah mulai bisa lebih santai. Wajahnya memang masih terlihat pucat, tapi senyumnya terasa lebih segar sekarang.

“Udah agak baikan?” tanyaku lagi.

“Ya, lumayan. Sekali lagi, terima kasih ya, Mas,” katanya lagi terlihat sungkan.

“Udah, ah, jangan makasih terus, aku gak punya kembaliannya …,” ledekku lebih mencairkan suasana.

Dia hanya tersenyum. Tapi, ekspresinya kembali datar dan tampak lemas seperti tadi lagi.

“Loh, kenapa, Mas? Masih sakit ya …”

“Enggak, kok. Aku cuma malu dengan kejadian tadi.” Ia kembali tertunduk.

Aku diam sejenak. Aku semakin yakin kalau dia bukan orang Sunda atau mungkin baru di Bandung. Selain logatnya, gaya bicaranya masih kaku.

“Sudah …,” aku menepuk bahunya dua kali. “Gak usah malu. Itu, kan, bukan kehendak kita. Orang namanya sakit, siapa yang mau. Lagian kebanyakan dari mereka juga kasihan sama Mas, kok,” ujarku menghibur. Padahal, belasan pasang mata menatap si cowok itu tajam tadi.

“Oh, ya, Mas ini mau ke mana emangnya?” tanyaku lagi.

“Aku mau ke tempat saudara di Jatinangor,” jawabnya singkat.

Jatinangor? Lah, masih jauh donk. Berarti dia turun karena malu kalau terus diam di TMB. Hmmm, kasihan juga ….

“Memangnya tadi dari mana?” tanyaku lagi kayak wartawan.

“Aku ini dari Sumatera. Berangkat kemarin, sampai loket bis tadi siang, dan langsung ke Jatinangor.”

Tuh, kan! Bener dugaanku. Pasti dia bukan orang asli sini. Dari raut muka dan fisiknya juga kelihatan. Bukan maksud rasis dan membandingkan tingkat kecakepan antarsuku, tapi memang biasanya akan kelihatan bedanya antara orang Sunda dan bukan orang Sunda, terlepas dari cakep atau jeleknya, hehehe.

“Oh, dari Sumatera, tah? Dari mana emangnya? Terus ke Bandung baru pertama, ya?” Wah, tanpa sadar aku nyerocos memberondong dia dengan banyak pertanyaan. Untungnya cowok itu gak curiga, kita kan baru kenal, tapi aku udah pengen tahu banyak hal darinya.

“Palembang. Ya, baru kali ini. Aku diterima di Unjat, jadi aku ke sini untuk registrasi mahasiswa baru,” jelasnya.

Unjat! Universitas Jatinangor! Aku, kan, juga baru diterima di sana. Aku juga ke Bandung untuk registrasi. Wah, asyik, baru ke Bandung, langsung dapat kenalan!

“Oh, ya! Kebetulan donk, aku juga calon mahasiswa Unjat! Btw, Mas tadi turun di Leuwi Panjang, ya? Kok, gak naik bus Damri aja yang langsung ke Jatinangor?”

“Oh, ya. Ya, tadi aku turun di Lewi … eh, Lewi ….”

“Leuwi panjang!” sambungku cepat. Hihihi, dia gak bisa nyebut “leuwi” malah “lewi”.

“Hehehe, iya … tadi di terminal itu, kata petugas di sana, Damri lama, bisa naik TMB saja, dan disambung satu kali angkot di Gebe … eh, Gebege …” kata-katanya terputus.

“Gedebage!” sergahku langsung, seperti mengagetkan orang gagap.

“Hehehe, ya itulah, aku juga masih pusing,” jawabnya sambil senyum dan garuk-garuk kepala, malu. “Mas juga mau ke Jatinangor sekarang?”

“Oh, enggak. Aku tinggal sama saudara di Cibiru,” kataku sambil terus asyik memerhatikan tiga titik tahi lalat kecil yang menghiasi pipinya yang mulus.

Cowok itu tampak celingak-celinguk, melihat ke kanan dan kiri.

“Mas, aku hendak cari tempat makan dulu. Sejak kemarin malam, aku belum makan nasi, makanya masuk angin,” ujarnya sambil melihat ke arah warung Padang yang letaknya sekitar 100 m dari shelter.

“Oh, pantesan. Ya, silakan. Kalo gitu aku lanjut ya, tuh TMB barunya udah datang,” kataku agak berat. Sebetulnya, aku masih betah ngobrol sama dia.

“Mas enggak sekalian ikut makan. Aku traktir, kok, sebagai ucapan terima kasih,” tawarnya sambil senyum.

Wah, tawaran yang menarik! Aku lirik jam tangan, sudah jam 2.15. Padahal aku udah janji sama Dendi, mau cari kamar kos di Jatinangor. Kalau dibatalkan, aku gak enak. Soalnya demi janji ini, dia udah membatalkan acara bareng teman-temannya.

“Wah, sebetulnya aku sih masih pengen ngobrol. Tapi, aku udah ada janji sama sodaraku. Lain waktu aja, deh … maaf, ya!”

“Sudah, gak ada lagi penumpang?” Tiba-tiba petugas TMB berteriak sambil menyapu pandangan ke setiap sudut shelter.

Oh, Tuhan! Aku lupa kalau sudah ada TMB yang berhenti. Gak ada waktu buat menunggu TMB selanjutnya. Kasihan, Dendi sudah menunggu. Aku bergegas buru-buru berdiri menghampiri petugas karcis.

“Bentar, Pak. Masih ada!” seruku pada petugas.

Rona wajah petugas tiba-tiba berubah kesal. Biasa aja, deh, Pak, ekspresinya!

“Mas, sorry, ya, aku buru-buru. Hati-hati, jangan sampai masuk angin lagi, ya,” pesanku pada cowok itu sambil berlari kecil ke pintu TMB.

“Ya, terima kasih, ya!” jawab cowok itu sambil melambaikan tangan.

***

Bagaimana denganmu, apa pernah berbincang-bincang akrab dengan seseorang tanpa berkenalan terlebih dahulu?

 

64 pemikiran pada “Beranda 2: Perkenalan Tanpa Nama

  1. Ping-balik: Beranda 13 : Tolongin Gue! « Catatan Elfarizi

  2. Ping-balik: Beranda 12 : Cowok Itu Harus … « Catatan Elfarizi

  3. Ping-balik: Beranda 11 : Dan, Ternyata … « Catatan Elfarizi

  4. Ping-balik: Beranda 10 : Nasi Sudah Menjadi Bubur « Catatan Elfarizi

  5. Ping-balik: Beranda 9 : Dendi! « Catatan Elfarizi

  6. Ping-balik: Beranda 8 : Pulang, Jangan? « Catatan Elfarizi

  7. Ping-balik: Beranda 7 : Futsal? « Catatan Elfarizi

  8. Ping-balik: Beranda 6 : Anak Mami « Catatan Elfarizi

  9. Ping-balik: Beranda 5 : Bila Pras …. « Catatan Elfarizi

  10. Ping-balik: Beranda 4 : Mahasiswa Baru « Catatan Elfarizi

  11. Ping-balik: Beranda 3 : Duh, Lupa! « Catatan Elfarizi

  12. Ping-balik: Eksistensi dan Fungsi Fitrah Bagi Kehidupan Manusia « DEWA SASTRA

  13. Ping-balik: Link Pendidikan, Tutorial, Tips dan Trik, dan Informasi Umum « DEWA SASTRA

  14. pernah jg, tp malah yang paling sering tuh aku dikira ank Bandung ato paling ga JawaBarat. gimana yak?
    ditunggu posting lainnya soal beda ank Bandung, Sunda, Jawa Barat sama Jawa Timuran? #masihbingung :D

  15. kalo di dunia nyata kayaknya masih susah ngobrol akrab sama orang asing kayak gitu. entah karena pada takut dijahatin atau karena memang 90% pasti orang asing yang ngajak2 ngobrol di tempat umum biasanya memang bermaksud jahat. :?
    dulu waktu umur2 abege (ceila yang udah tua bangka :lol: ) aku pernah nerima permen dari ibu2 (tionghwa) di angkot gt. ibu itu juga nawar2in ke penumpang2 lain tapi gak ada yang mau nerima. aku ceritakan kejadian ke emakku, trus langsung dinasehatin supaya jangan suka nerima apa2 dari orang yang nggak dikenal. bagiku sih sebenernya orang gak perlu terlalu defensif sama orang/hal2 asing. tapi waspada, terutama di tempat umum, itu juga penting.
    waspadalah…3x! :razz:
    gak sabar nunggu kelanjutannya… lanjutgan. :)

  16. Ehemmm Ehemmm Ehehmmm itu loch yang mesti digaris bawahi :)
    senyumnya yang maniss =))

    walaupun kau bukan parempuan, kelihatan loh rona wajah saat kau menyebut kata

    Ya Tuhan, Senyumnya manis juga =))

    Tenang Bang nanti juga ketemu dikampus d(^o^”)… trus bisa kenalan lagi hehehehe

    ditunggu kelanjutannya ya

    • hahaha, rupanya ada orang Sumatra … perlu digaris bawahi, ini bukan soalnya fisik lho, entar jatohnya rasis lagi … tapi maksudnya, biasanya ada orang yang bisa ngerasin apakah orang lain itu suku yang sama atau tidak lho … semacam aura hahaha #geje :D

Baca dulu, baru komentar dong :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s