Beranda 1 : Kejadian Menjijikan di TMB

Mulai hari ini, ada teenlit bersambung, nih, dari Catatan Elfarizi. Silakan dilumat, dinikmati, diapresiasi, dikritik, dan lain-lain, dicaci juga boleh … Teenlit ini diharapkan selesai selama satu bulan (sampai akhir Maret), diperbarui setiap satu atau dua hari. Silakan ikuti bagi yang minat, nanti bakal banyak kejutan-kejutan buat sahabat semua di beranda tertentu, di tengah, dan bahkan di akhir :)

Bis Trans Metro Bandung (TMB) yang kunaiki begitu sesak. Selain tempat duduk yang penuh, penumpang yang berdiri juga berjubel. AC yang cuma sekadar pajangan itu memperburuk suasana: orang-orang yang berkeringat kepanasan, gak sedikit pula aroma bau badan tercium bertabrakan di hidung. Apalagi kebanyakan penumpang berdiri, mengangkat satu atau kedua tangannya untuk memegang pegangan yang nampak lembek. Itu artinya, ketek-ketek mereka leluasa bisa bernapas dan mengeluarkan aroma yang macam-macam. Syukur-syukur kalau sebagian dari mereka pakai deodoran.

Tanganku masih kuat menahan badan meski TMB yang kunaiki pelan-pelan jalan dan berhenti. Macet pada siang hari bukanlah ide yang menyenangkan. Diperburuk setopan sepanjang jalan Soekarno-Hatta, yang lampu merahnya memakan waktu yang lebih lama daripada lampu hijaunya. Begitulah Bandung. Selain melimpah ruah factory outlet dan tempat wisata kuliner, Bandung juga surganya setopan.

Mataku sayup-sayup mulai redup. Wah, lima watt, nih! Kubuang pandangan ke arah luar. Terasa gersang dan kering. Di samping kiriku, seorang bapak paruh baya tampak ngantuk. Di samping kanan, ada anak SMP, cewek, putih, rambutnya ikal sebahu, wajahnya yang imut berkacamata tampak bengong mikirin sesuatu. Selama 20 menit perjalanan, aku baru nyadar kalau di sampingku ada berondong manis yang sebetulnya bisa kunikmati.

Hush! Maksudnya, seenggaknya gak bikin perjalanan jadi membetekan. Kalo lihat mukanya yang segar dan bersih, pikiran mumet akibat terjebak di antara ketek-ketek orang yang bau hilang seketika. Pengen sekali aku nanya, tapi ah, ngapain juga. Malu-maluin aja ngajak anak ingusan ngobrol. Pasti umurnya 4 atau 5 tahun lebih muda dariku.

Aku melirik ke depan. Seorang cowok tampak membelakangi. Pakai kemeja dikeluarkan, warnanya biru muda tanpa motif, celana katun, dan pantopel cokelat, serta menggendong tas yang kelihatannya memuat banyak barang di dalamnya. Dia pasti orang kerja. Tapi kok bawa tas segede gaban begitu? Terus kenapa jam setengah dua udah keluyuran di TMB? Aku penasaran lihat mukanya. Penampilannya tampak usia 27 ke atas, tapi barangkali mukanya masih seumuran aku atau bahkan lebih muda. Kulit tangannya sawo matang, tapi berkesan keputih-putihan dan bersih tanpa bulu. Hmmm, gimana, ya, caranya biar dia balik badan? Pikiran makin ngawur, melayang ke mana-mana.

(sumber: http://images.detik.com)

Hueeek!

Awwwawww … tampak para wanita menjerit-jerit. Cowok di depanku tampak membungkukkan badan. Astaga! Cowok itu muntah! Muntahnya berserakan dan gak sedikit orang yang sial terkena imbasnya. Salah satunya, kondektur TMB yang baju belakangnya tersembur muntahan si cowok kelimis itu. Ibu-ibu ada yang tampak tak berkutik lihat sepatunya terciprat. Anak SMA yang roknya pun gak luput dari semburan. Dalam hitungan detik, TMB yang berukuran mungil dan disesaki manusia di siang bolong tanpa AC berubah aromanya seperti septic tank. Bau!!! Situasi amat kacau.

Semua orang lekas menutup hidung, termasuk aku. Ada yang mengeluarkan minyak kayu putih, aromatherapy, minyak wangi, dan segala macam wewangian untuk menimpa aroma busuk di TMB. Ada yang nangis karena roknya kena cipratan menjijikan, ada yang ngedumel, ada yang ketawa-ketawa entah untuk apa (mungkin ngetawain kejadian ini), tapi gak sedikit juga yang iba sambil menatap si cowok itu. Parahnya, TMB belum sampai shelter berikutnya. Itu artinya, semua orang terpaksa berdiam pada posisinya. Oh, God, mimpi apa aku semalam? Apalagi orang-orang yang siang ini ketiban sial akibat kesembur muntah. Hoammm, siang yang buruk!

Si Cowok tetap berdiri membelakangiku. Aku tak bisa lihat ekspresinya. Pasti ia serba salah dan entahlah, aku jadi berempati andai aku ada di posisinya. Dan, kalau saja aku kebagian tempat duduk, pasti aku akan menyilakannya untuk duduk. Pasti cowok itu lagi sakit atau apa …. Kepalanya tampak tertunduk. Sedangkan banyak pasang mata menatap si Cowok itu dengan aneka tatapan. Tatapan marah, jengkel, kesal, jijik, kasihan, dan iba.

“Kiaracondong, Samsat!” Kondektur meneriakkan shelter berikutnya. Akhirnya, ketemu shelter juga. Sebetulnya tujuanku masih jauh, yaitu shelter terakhir di ujung Bandung. Tapi, aku gak tahan dengan bau dalam TMB ini, jadi aku putuskan untuk berhenti dan ganti TMB lainnya. TMB pun berhenti di shelter. Para penumpang berebut keluar dari TMB. Pasti nasibnya sama denganku. Mereka yang belum sampai tujuan pun ikut turun untuk berganti TMB.

***

Kebayang, kan, seperti apa suasana di dalam TMB itu? Ada yang pernah mengalami kejadian menjijikan di tempat umum?

68 pemikiran pada “Beranda 1 : Kejadian Menjijikan di TMB

  1. Ping-balik: Beranda 13 : Tolongin Gue! « Catatan Elfarizi

  2. Ping-balik: Beranda 12 : Cowok Itu Harus … « Catatan Elfarizi

  3. Ping-balik: Beranda 11 : Dan, Ternyata … « Catatan Elfarizi

  4. Ping-balik: Beranda 10 : Nasi Sudah Menjadi Bubur « Catatan Elfarizi

  5. Ping-balik: Beranda 9 : Dendi! « Catatan Elfarizi

  6. Ping-balik: Beranda 8 : Pulang, Jangan? « Catatan Elfarizi

  7. Ping-balik: Beranda 7 : Futsal? « Catatan Elfarizi

  8. Ping-balik: Beranda 6 : Anak Mami « Catatan Elfarizi

  9. Ping-balik: Beranda 5 : Bila Pras …. « Catatan Elfarizi

  10. Ping-balik: Beranda 4 : Mahasiswa Baru « Catatan Elfarizi

  11. Ping-balik: Beranda 3 : Duh, Lupa! « Catatan Elfarizi

  12. Bener tuh Sob minta sama tante Angie, siapa tahu apelnya bisa buat cegah muntahnya. he…x9

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

  13. Ping-balik: Beranda 2: Perkenalan Tanpa Nama « Catatan Elfarizi

  14. berdesak-desakan nya seperti menaiki bus way atau metromini trans jakarta, tapi pengalamanku tanpa orang muntah.
    Jakarta – Bandung memang penuh sesak.
    meski begitu, ga pernah kapok naik metromini atau bus way :D

    Sepertinya akan lebih santai dan nyaman kalo naik jaguar, he… tapi dana pinjaman dari Om Gayus belum cair. hihihiiiii… terpaksalah.. naik angkutan umum
    :D

  15. Bingung saya harus kasian sama siapa. Sama orang yang muntah, atau sama yang kecipratan muntahan, atau sama awak bus yang terpaksa menikmati aroma sampai ke poll-nya.

  16. Sering mas.. Apalgi kalau pulang ke Jambi, biasanya naik bus ekonomi. Setiap perjalanan selalu diwarnai dengan lomba muntah dari para penumpangnya.. hehe :D
    keren nih mas el, dah bikin teenlit… :)

  17. aku pernah juga pak mutah karena waktu itu masuk angin. kesian mas2 yang kena imbasnya. hehehe. tapi bus jogja solo loh yang kek gitu deh non ac dan penuh sesak. waktu itu sebenernya udah ditahan tapi waktu berdiri mau turun ga sengaja ngeliat bulu ketek bapak2 jadi deh mutah. hehehehe

  18. hadouhhh sungguh terlalu dikau, bantulah dia kacian kan lagi sakit hehehehehe, gak kebayang kalo hal tersebut ada dibusway jakarta lah wong untuk naik aja empet empetan kan gak mungkin muntahin muntah keatas v(^o^”) pisss

    - ditunggu kisah berikutnya d(^o^”)

Baca dulu, baru komentar dong :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s