Hari ini, waswas menyelimuti seluruh keluarga saya: mama, papa, saya, dan kakak ipar. Teteh saya satu-satunya akan segera menghadapi tindakan medis yang pasti tidak mudah dijalani. Operasi! Ya, dioperasi. Siapa orang yang mau dan senang dioperasi, mempertaruhkan segala macam resiko di hadapan para dokter bedah. Kecil maupun besarnya tindakan operasi, tetap resiko terburuknya adalah kematian. Demikian yang pernah diucapkan dokter anestesi saat saya hendak dioperasi beberapa bulan silam.
Teteh saya akan menjalani laparoskopi, tindakan bedah yang lebih modern dibanding operasi konvensional pada umumnya. Tindakan ini diambil untuk membuka sumbatan pada tuba falofi. Bila tidak dibuka, sumbatan tersebut menghalangi sperma menuju sel telur hingga tidak memungkinkan terjadinya pembuahan. Operasi tersebut akan dilaksanakan besok Kamis (26/1) pukul 08.00 WIB di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Semoga Allah memberikan jalan terbaik bagi kami sekeluarga.
Kenapa Harus RSHS Lagi, Tuhan?
Meski kami tinggal di Cianjur, namun ternyata laparoskopi tersebut hanya bisa dilakukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung. Satu tamparan keras bagi keluarga, terutama saya sendiri. Saya kira, saya tak akan lagi menginjakkan kaki di RS kebanggaan masyarakat Jawa Barat ini. Padahal, setiap melewati RS, saya selalu memalingkan muka tak mau melirik sedikit pun, apalagi memasukinya. Kenapa?
Ini mengingatkan saya pada 5 tahun lalu, saat kuliah di semester 1. Saat itu, keluarga kami kehilangan anak bungsu, adik saya yang masih berusia 5 tahun. Namanya Salma Nur Fauziah, biasa dipanggil Zia. Dia sangat dekat dengan saya. Saat itu, dia sakit keras. Di rumah sakit setempat, ia divonis tifus. Setelah dirujuk ke RSHS, ia divonis DBD. Pertama ia sakit, saya masih ada di rumah saat itu. Namun, meski berat, saya terpaksa pulang ke Bandung karena saat itu adalah waktu UAS.
Saya ingat kata-kata terakhir yang pernah dia ucapkan. Suatu malam, dia merengek ingin dibacakan cerita tentang Nabi Adam dan Nabi Muhammad. Setelah selesai, ia berceloteh, “Aa, sekarang Nabi Muhammad di mana?” Saya menjawab simple, “Di surga, Sayang.” Lalu ia menimpali, “Aa, Zia pengen ke surga ….”
Dan, satu hal yang paling menyisakan sesal yang amat dalam adalah saat saya hendak menemui Zia di RSHS. Malam itu, teteh menelepon kalau Zia terpaksa dirujuk ke RSHS karena kondisinya semakin memburuk. Saat itu, pukul 11 malam. Tanpa berpikir panjang, saya segera meluncur ke RSHS yang cukup jauh dari kos saya di Bandung Timur. Dengan terus mengucap doa dan tak hentinya jantung berdegup-degup sepanjang jalan, akhirnya saya sampai di RSHS.
Saya segera mencari UGD, namun ternyata teteh sudah berdiri hendak menjemput di lobi depan. Teteh terdiam menatapku kosong, tanpa ekspresi. Saat kami berhadapan, teteh langsung mendekap saya erat-erat. Tangannya menggigil, isak tangisnya begitu pilu terasa di dada, dan saat itu teteh bilang … Zia sudah pulang.
Saya permisi, ambil dulu tissue ….
Yaaa, sejak saat itu, saya pribadi enggan menginjakkan kaki di RSHS. Saya tahu, sikap seperti ini adalah hal yang tidak logis dan mengganggu. Saya harus kuat melawan dan menaklukkan rasa “takut” dan “benci” itu, dengan menyugesti diri dengan hal-hal positif. Dan, esok saya harus siap … mendampingi kakak ipar saya menunggu teteh yang akan segera berhadapan dengan para profesional medis. Semoga semua diberi kelancaran dan keluarga kami segera tersenyum kembali
Cerita tentang Zia, saya fiksikan di sini.

gimana kabar teteh?
sudah membaik?
waduh. sedih sekaligus terharu baca cerita tentang Zia..
gimana keadaan tetehnya? moga lekas sehat..
salam kenal aja yaaa…sukses slalu
Salam kenal sobat,,
saya doakan semoga yg sakit cepat sembuh dan semakin sehat,,amiiin,,
Salam kenal juga … Ya, makasih Mas doanya
Amiiin, thanx Aniiiis …
Salam juga buat adeknya yaaa, jangan galak-galak hehehe
Amiin… semoga lancar oprasinya
moga Adik zia juga tenang di sana…
kejadian nggak menyenangkan memang suka bikin kita menghindari hal yang berhubungan dengan itu… semangat!!!
Kehilangan adik tercinta emang tak mudah. Dan membenci rumah sakit ini juga manusiawi. Saya berdoa semoga si Teteh sukses dengan operasinya dan Mas elfarizi akhirnya dapat ponakan
Thanx Mbak Evi atas doanya
Amiiiin sekali
Amiiin. Thanx Mas Ajo
semoga operasinya berjalan lancar dan cepat sembuh kembali seperti sedia kala…
Aduh, sedihnya…
Pengalaman kehilangan orang yang dicintai memang traumatis banget, bisa dimengerti…
Semoga operasi besok lancar dan teteh-nya segera pulih ya… God bless!
Yaaa, makasi Bunda Raja
Amiiin, GBU too