Faktanya, Soekarno-Hatta Sangat Jarang ke Masjid

Berawal dari celotehan ponakan seorang kawan, “Om, tahu gak, siapa pahlawan masjid?” Si om sempat dibuat bingung dengan pertanyaan ponakan yang masih bocah itu. Saat kawan saya melontarkan pertanyaan yang sama pun, saya sempat bingung. Siapa, ya, pahlawan masjid? Mungkinkah itu ketua DKM, pengurus DKM, imam besar, ustad yang sering kasih pengajian, atau para jamaahnya. Setelah menyerah, si bocah menjawab innocent, “Ya, Pattimura, dong!” Haaa, saya langsung melongo (dengan ekspresi datar selama 10 detik). Hmmm, betul juga itu bocah, memang pahlawan yang sering “nongkrong” di masjid paling banyak biasanya Kapitan Pattimura yang berpose gagah dan berwibawa (meski lebih mendekati garang) dalam duit Rp1.000,- yang mendekam dalam kotak amal jariyah.

Bung Karno sedang berada di masjid (sumber: www.noenkcahyana.blogspot.com)

Kotak amal jariyah (dalam bahasa Sunda, disebut koropak) adalah salah satu “aksesori” wajib yang biasanya ditemukan di masjid-masjid, baik masjid kecil (langgar, mushala) hingga masjid raya sekalipun. Yaitu, tempat yang digunakan untuk “menampung” uang dari para jamaah masjid yang dermawan. Bentuk kotak amal jariyah, ya sesuai namanya–kotak–biasanya juga berupa kotak, meski ada juga yang dimodifikasi jadi berbagai bentuk, seperti bentuk kubah masjid, mobil-mobilan (dikira penitipan anak, kali, ya?), kotak beroda, bahkan ada juga yang bentuknya keranda jenazah. Mungkin, dengan demikian, orang akan lebih termotivasi untuk bersedekah mengingat dihadapkan pada keranda jenazah mini. Dan, yang paling penting, kotak amal jariyah harus memiliki lubang yang panjangnya sekitar 5 cm dan lebar yang hanya beberapa mili. Yang penting, uang koin dan kertas yang dilipat bisa masuk. Jangan terlalu lebar, apalagi sampai bisa dimasuki tangan. Bahaya!

Kotak amal jariyah selalu tersimpan dalam keadaan terkunci. Jika tidak dikunci, dikhawatirkan memancing tangan-tangan jahil untuk mencicipi kriminal. Kotak amal jariyah, ada yang disimpan secara permanen di satu posisi, misalnya di bagian depan pas pintu masuk atau di beberapa penjuru masjid. Ada pula kotak amal jariyah yang kemunculannya bersifat insidental, misalnya kotak amal jariyah yang biasa “keliling” saat shalat Jumat, saat pengajian, saat acara-acara PHBI, dan beberapa acara yang biasa diadakan masjid. Isinya? Tentu isinya adalah uang. Saya belum pernah menemukan kotak amal jariyah di masjid yang isinya selain dari uang, semisal permen, rokok, surat pengaduan, atau apapun yang bisa masuk lewat lubang keci. Uangnya pun beragam nominal, terdiri dari uang logam dan kertas.

Kebetulan, bapak saya adalah ketua DKM di salah satu masjid jami (tingkat dusun). Biasanya, selepas ibadah shalat Jumat setiap minggunya, beliau dan para pengurus suka “membongkar” kotak amal jariyah yang sudah keliling mulai shaf depan hingga shaf belakang. Biasanya, saat kotak amal jariyah melintasi shaf awal, akan berjalan lambat. Namun lama-lama, saat melintasi shaf ujung, kotak amal jariyah berjalan semakin cepat. Apalagi jika satu shaf diisi bocah SD, kotak bakal berjalan ngebut ekspress, sama sekali gak berhenti. Setelah dibongkar, maka akan keluarlah banyak “pahlawan” dari si Kotak Amal Jariyah itu. Meski perwajahan para pahlawan itu dalam kondisi yang berbeda-beda, ada yang masih mulus, ada sudah lusuh, kusut, kucek, bau mesin ATM atau bau tomat.

Jumat pekan lalu, iseng-iseng saya ikut nimbrung bapak “membelah” duren, ups, kotak amal jariyah. Ingin membuktikan, celotehan ponakan kawan saya di atas, benarkan Pattimura adalah pahlawan yang “rajin” ke masjid. Setelah dibuka, kotak terdiri dari uang kertas dan logam. Saya cuma memerhatikan para pengurus DKM menghitung. Alhasil, yang pertama tentu masih didominasi oleh Kapitan Pattimura, kedua Pangeran Antasari, ketiga Pangeran Diponegoro, keempat Sultan Mahmud Badarudin II, kelima Oto Iskandar Di Nata, dan … di posisi keenam, hanya ada seorang I Gusti Ngurah Rai. Hmmm, nampaknya masih ada yang kurang. Saya coba berpikir keras–seperti mengingat-ingat sesuatu–dan yaaa, saya sadar bahwa para punggawa negeri, sang Proklamator Soekarno-Hatta nampaknya tidak hadir pada Jumat kali itu.

Isi kotak amal sudah selesai dihitung. Meski hasilnya cukup besar dari segi angkanya, saya yang baru sekali itu ikut nimbrung “membongkar” kotak amal jariyah, kecewa karena founding father negeri ini ternyata tidak ikut shalat Jumat waktu itu. Ternyata, tidak ada yang jamaah yang berkenan memasukkan “Soekarno-Hatta” ke dalam kotak amal jariyah. Tapi, saya yakin itu bukan karena keengganan, melainkan “para pahlawan tersebut” sudah jarang dimiliki para tetangga saya, dan termasuk saya dan keluarga. Meskipun ada, tentu jadi barang langka. Saya saja melihat mereka nyelip di dompet saya sangat jarang. Dalam sebulan, paling ketemu beberapa kali dalam dompet dan dalam hitungan menit sudah bertukar pahlawan-pahlawan lainnya. Berbahagialah Anda yang sudah terbiasa “tinggal” bersama kedua pahlawan tersebut. Semoga jadi refleksi bagi semua.

P.S. Pesan khatib yang saya ingat dari shalat Jumat tadi siang.

Q.S. Al-Baqarah [2]: 254 “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang lalim.”

Ayo, silakan pilih. Siapa pahlawan yang mau Anda masukan kotak amal jariyah! :)

Ilustrasi dari banyak sumber (Google.com dan Flickr.com)

104 pemikiran pada “Faktanya, Soekarno-Hatta Sangat Jarang ke Masjid

  1. Ping-balik: Karma « Catatan Elfarizi

  2. ha ha ha.. kirain sedang nulis soal kereligusitas-an Bung Karno dan Bung Hatta. Ternyata tentang seberapa seringnya para pahlawan itu nongkrong di kotak amal jariyah masjid. Bagus dan creative banget postingannya.

    Terus Pak Harto udah nggak pernah nongkrong di masjid lagi dong ya? he he..

  3. wah, bagus postingannya.. :)

    seringkali orang memilih memberi sedikit dan membelanjakan banyak, padahal sejatinya yang kita miliki adalah yang kita berikan :)

  4. hahahahhahaha. . . . . gokillllll!!!!!!
    sindiran yang langsung menusuk ke jantung ke-cegek-an hidup :lol:

    pas lead uang2 tuch. . . sumpah! maluuuuuuuu. . . .

    maapin ane ya, soekarno-hatta :D
    engga maksud :lol:
    wkwkwkwkwkwk

  5. Hwehehe… ternyata. Pas baca judulnya gak disangka mengarahnya ke pembahasan tentang ini. Kereennn :D

    Oke, ini fakta baru!!! Hahaha,.
    salam kenal yaa.. tuisannya asikk :)

  6. ada yang masih mulus, ada sudah lusuh, kusut, kucek, bau mesin ATM atau bau tomat :mrgreen: wkwkwkwkocak ada bau tomat segala ..

    ane milih yg nol nya banyak aja deh buat dimasukin ke kotak amal jariyah :D

  7. huahahaha…. bener…bener… bapak soetta jarang ke masjid. tapi di masjid polda deket tempatku banyak juga kok.. :D memang sih tak sebanyak pangeran diponegoro :D

  8. xixixi terkecoh saya …
    kirain tadi mo bahas BK dan Bung Hatta
    eh ga taunya tentang amal toh
    iya ya … seringnya emang Pattimura tuh
    mungkin karena yang dikasi sisa parkiran kali hehehe
    semoga,s etelah mbaca tulisan ini, klo ke mesjid lagi besok2
    kita ngasihnya yang ada gambar BK minimal Jend.Sudirman deh hehehe

  9. bisa jadi lembaran merah sering masuk ke celengan lain, alias bukan celeng masjid via tangan ke pengurus langsung dimana mungkin hajatan orang melepas nazdar, sedekah untuk almarhum, dll :)

    semua lembaran warna itu tentu dengan ikhlas akan menjadi bekal untuk hari akhir nanti. wallahu’alam

  10. Huahaha, dahsyat nih posting-an, ternyata Soekarno-Hatta yang dimaksud itu uang 100ribu… :mrgreen:

    Ternyata ya, kalo semua uang kertas Indoensia dijajarkan satu-satu seperti di atas, penampilannya antik banget ya, bagus banget desainnya. :D Rasa2nya cuma uang negara kita yang berwarna-warni, terus ada gambar banyak pahlawannnya. :D

  11. huahahahahaa… gokil gw sempet terkecoh .. aaarrrggghhhhh…:|
    artikelnya keren sob.. hahaha…
    bener bgt tuh, orang bakal mikir panjang mo amal ake duit 100rb, haha…

    • “Harus” sih gak tahu, tapi lebih ke menghargai si pembuat gambar sih :D
      Tapi, sebetulnya itu kan berhubungan sama hak cipta. Apalagi kalau gambar-gambar komersil :D

  12. Wah…hebat nich, semakin mantabbb tuch gaya tulisanmu….Aku mundur ah jadi penulis…hehehheee….Sekarang, malam ini Gue ikrarkan dirimu bukan pemain cadangan lagi ych, jadi pemain inti…Siap tempur

  13. WAh aku juga jadi DKM dijogja Mas…
    Aku jadi mahasiswa yang tinggal dimasjid biar irit..
    Dan tadi jumlah infaqnya Rp 900.000-an lah…
    Itu hanya dalam satu jumat ini saja karena setiap jum’at kotak itu selalu dibuka….
    Hidup PAHLAWAN

Baca dulu, baru komentar dong :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s