5 Suara Unik Sekitar Kampung Manisi

Manisi? Pasti banyak yang tahu, di mana tempat itu berada. Dan, pasti jauh lebih banyak lagi yang gak tahu, di mana tempat itu terletak? Apa ada dalam peta? Dan, pasti ada juga yang mengernyitkan kening, sambil bergumam agak menyedihkan, “Manisi? Apaan tuh?”

Manisi adalah nama sebuah kampung yang ada di ujung timur Bandung, tepatnya di kecamatan Cibiru. Itu loh, sebelah timur kampus UIN Bandung. Tau? Ya sudahlah, gak penting juga ngebahas Manisi lebih jauh. Tapi, di balik ketidakpentingan itu, ada satu hal yang menurut saya unik, yaitu suara-suara yang ada di sekitar kampung Manisi itu. Suara apa dan siapa sajakah itu?

  1. Tukang galon isi ulang

Bapak yang satu ini sangat berjasa di kampung Manisi. Jasanya mengantarkan air dari satu pintu ke pintu lain patut diacungi jempol. Konsumen cukup SMS dan dalam waktu yang cukup lama dan kadang bikin BT, tergopoh-gopoh bapak yang selalu pakai topi hitam ini muncul depan pintu. Sebelum menanyakan galon, ia pasti berapologi kalau ia gak pegang HP, karena yang pegang HP majikannya. Suaranya  unik dan sangat khas yaitu, “Aiiiiiiiir!” Suaranya khas, agak ngebas, dan adanya penekanan pada suara “iiiiir” yang lamanya mencapai 4-7 detik.

  1. Tukang bubur

Setiap pagi, sosok muda yang gak jangkung-jangkung amat ini cukup dinanti, terutama mahasiswa yang malas masak atau jalan-jalan pagi mencari kebutuhan pangan. Pada jam 06.30-08.00 WIB, mereka setia menunggu suara khas tukang bubur, “Bubur!” Simple, sederhana, tanpa penekanan, dan berdurasi singkat. Tapi suaranya sangat khas, yaitu falseto yang pas dan gak fals.

  1. Tukang odading

Tukang yang satu ini sangat misterius. Biasa muncul di pagi hari, sekitar pukul tujuh pagi atau sebelumnya. Saking misteriusnya, saya pernah mendengarnya melantunkan suara khasnya pada jam tiga pagi! Serius! Dan, kejadiannya berulang-ulang, bahkan selepas shalat Shubuh, suaranya suka terdengar melintas di depan kos. Selain kemunculannya yang misterius, suara tukang odading di Manisi sangat unik. Entah apa persis yang ia ucapkan, tapi suara yang selalu tertangkap adalah, “Polriiiiiiiiiii!” Percaya atau gak, tapi itulah faktanya. Pernah saya dan seorang teman berdebat, kata apa yang ia ucapkan. Apakah “odadiiiiiing” yang saking cepat dan gak jelas jadi tertangkap “polriiiii” atau memang ia sengaja mengucapkan “polriiiiiiiiiiiiiii.” Pengennya sih nanya langsung, tapi karena kemunculannya itu misterius jadi selalu gak sempet.

  1. Tukang sol sepatu

Tukang sol sepatu yang paling bikin saya empati. Bukan karena sosoknya yang memang kadang memilukan, tapi karena suara khasnya yang paling favorit ditiru anak-anak sekosan sehingga berkesan dilelewe alias diejek. Sebagai tanda ia melintas di kos maka tanda yang ia kasih adalah suara khas, “Solpat!” yang diulang-ulang dengan jeda sekitar 5 detik. Saking cepatnya, kadang suara yang tertangkap adalah “copat!”

  1. Tukang keripik

Bapak yang kira-kira usianya di atas 20 tahun ini jarang sekali lewat. Setelah diwawancarai, ia mengaku paling tidak seminggu dua kali lewat ke depan kos saya. Bahkan kadang, dalam dua minggu cuma satu kali ia lewat. Suara khasnya adalah, “Kripik, kripik!” Yah, suara yang gak banyak improvisasi, datar, dan khasnya adalah pengulangan—bahasa kerennya repetisi—sebanyak dua kali. Kalo suara itu sudah menggema, maka bapak yang selalu setia dengan tanggungannya akan segera lewat. Ia menawarkan dua jenis keripik singkong, yaitu keripik pedas dan keripik asin. Dua-duanya enak. Harganya Rp 2.500 untuk satu rawu alias satu comot.

Satu pemikiran pada “5 Suara Unik Sekitar Kampung Manisi

  1. Ping-balik: Butuh Tulisan Humor? Anda Salah Alamat « Catatan Elfarizi

Baca dulu, baru komentar dong :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s