Hari ini adalah hari keenam perginya almarhum kakek. Sesuai tradisi yang turun temurun dilaksanakan di berbagai belahan daerah di nusantara, apalagi Jawa, keluarga kami pun tak ketinggalan mengadakan sebuah kenduri besar. Apalagi namanya kalau bukan tahlilan.

Siapa yang tak tahu dengan istilah tahlilan. Memang secara terminologis, tahlilan berarti mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah. Namun, dalam pengertian yang luas, tahlilan adalah sebuah acara yang dilaksanakan dalam memperingati hari kematian seseorang dimulai dari hari pertama orang tersebut meninggal. Biasanya tahlilan dilaksanakan dalam hitungan hari ke-1 hingga ke-7, lalu setiap  minggu hingga hari ke-40, mengingat hari ke-100, ke-1000, dan seterusnya.

Secara agama, tahlilan memang diperdebatkan oleh berbagai kalangan. Misalnya antara ormas Islam seperti Nahdhatul Ulama (NU) yang menyetujuinya, dan Muhammadiyah dan Persis yang menganggapnya sebagai sebuah bid’ah yang hendaknya tidak dilakukan. Namun, saya tak akan kembali memperdebatkan hal tersebut melalui pendekatan agama.

Kendati ditentang oleh sebagaian kalangan intern muslim sendiri, tak dapat dipungkiri bahwa tahlilan sudah menjadi tradisi sebagian besar masyarakat muslim Indonesia, terutama Jawa –termasuk Cianjur yang juga bagian dari Pulau Jawa.  Oleh karena itu, budaya tersebut sulit untuk dapat ditentang apalagi harus dimusnahkan sama sekali –atas nama apapun.

Seperti tahlilan yang baru saja selesai saya gelar di kediaman kakek. Lihat saja, betapa masyarakat sekitar antusias untuk menghadiri acara ini. Dari para bapak hingga anak-anak kecil yang ikut memadati dan membuat bising ruangan. Satu sisi, saya bersyukur ternyata banyak yang akan mendoakan almarhum kakek, karena setiap hari para tamu bertambah lebih banyak apalagi anak-anak.

Tahlilan pun dimulai. Sang ustadz yang memiliki peranan penting dalam kenduri tersebut. Ustadz sebagai pimpinan doa. Mulai membaca dengan runtut ayat-ayat, shalawat, dan doa-doa tahlil. Para tamu mengikuti. Namun suara anak-anak kecil saat itu sangat berisik hingga menganggu konsentrasi dalam membaca doa. Anak-anak terus-terusan mengoceh, boro-boro mengikuti doa. Saya lihat tamu yang kebanyakan kakek-kakek tampak khusuk mengikuti bacaan ustadz. Saking khusunya, ada yang malah tertidur dan ada pula bapak-bapak yang mengobrol atau melamun. Mungkin bacaannya di dalam hati.

Sementara para bapak –si empunya rumah dan tamu– sibuk dengan pembacaan doa-doa tahlil. Ibu-ibu di ruangan lain sibuk membuat kue untuk tahlilan berikutnya. Harumnya kue tercium hingga ruangan tamu. Belum lagi suara ibu-ibu yang sedang berkumpul bisa mengalahkan suara apapun. Para ibu tentu masih dalam satu kerabat almarhum. Jadi, mereka adalah orang-orang yang sedang ditinggal mati oleh almarhum. Namun semangat mereka dalam membuat kue dan berbagai masakan untuk ‘menyuguhi’ tamu tahlilan patut diacungi jempol.

Tahlilan selesai. Salah seorang tuan rumah bergegas menghitung jumlah tamu. Kemudian dicocokkan dengan jumlah kue yang akan dibagikan. Dalam bahasa kami istilahnya besek atau paros. Kemudian anak-anak diprioritaskan. Mereka bergegas merebut hak mereka. Tak dapat disangkal ricuh dan ribut. Disusul oleh tamu lain.

Silakan gambarkan sendiri keadaan tahlilan saat itu. Bagi yang sering melakukan mungkin akan terbayang. Namun entah bagi yang anti-tahlilan. Ketika saya lihat dan dengar, banyak anak-anak itu datang dari kampung sebelah. Ternyata motivasi mereka adalah kue yang dibagikannya. Katanya kue yang diberikan enak-enak dan bernilai rupiah yang lumayan. Tak heran, di kampung kami, keluarga yang selalu membagikan kue-kue yang enak saat tahlil akan terkenal. Bahkan bagi yang kurang mampu untuk melakukan hal serupa, bela-belain usaha untuk dapat membuat tahlilan menjadi memuaskan. Ngutang pun rela, asal tahlilan dapat dilaksanakan.

[to be continued]