Siapa tak mau menjadi orang baik? Saya kira, banyak orang baik di dunia ini. Dimana-mana pasti ada orang baik. Bahkan, orang disuruh untuk berlomba-lomba jadi orang baik.

Tapi, saya juga kira, orang baik banyak macamnya. Ada yang baik pada diri sendiri dan tak baik pada orang lain, ada yang baik pada diri sendiri dan pada orang lain, ada juga yang baik pada diri sendiri dan pada golongannya sendiri.

(lagi…)

Dua hari ini, ada yang nuansa berbeda di kala magrib menjelang depan kos. Tak ada suara khas yang mengiring pengujung senja kali ini. Yaitu, suara penggorengan mas tukang gorengan. Lelaki paruh baya asal Indramayu ini biasanya nongkrong depan kos, menjajakan aneka macam gorengan favorit mahasiswa, seperti : bala-bala, karoket, gehu, ubi, goreng pisang, dan cireng.

(lagi…)

Minggu lalu saya menulis sebuah opini non-komersial alias surat pembaca. Beberapa hari kemudian, surat tersebut dimuat di Pikiran Rakyat edisi Jumat, 19 Juni 2009. Berikut isi suratnya.

***

Rakyat Tahu Mana yang Harus Dipilih

Musim kampanye pada pemilu di tingkat mana pun hanya memberi satu pelajaran penting bagi masyarakat Indonesia. Disebut sebagai sebuah pelajaran karena hanya satu hal itu yang paling diingat oleh masyarakat. Yaitu, saling menjual pencitraan masing-masing (kandidat maupun partainya). Pelajarannya, yakni jangan terlalu percaya pada orang lain! Walaupun, orang itu orang terhormat sekaliber calon presiden dan wakil presiden.

(lagi…)

Moal menang sia teh! (Gak bakal menang kamu tuh!)” sembur salah seorang lelaki tua yang duduk di bangku depan. Ekspresi itu muncul ketika arak-arakan kampanye capres-cawapres Mega-Pro lewat datang dari arah berlawanan di Jalan Raya Padalarang. Bus Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) Maya Raya yang saya tumpangi berhenti beberapa saat karena macet yang diakibatkan arak-arakan itu. “Panas-panas kieu euh… (panas-panas begini)” tambah kondektur yang juga berdiri di depan sambil memperhatikan penyebab macet itu.

(lagi…)

Ada satu hal yang membuat saya tidak betah pertama kali tinggal di Bandung. Lantas saya jadi selalu ingin pulang ke rumah di Cianjur. Dan, alasannya hanya karena makanan untuk sarapan. Saya tidak mendapati makanan favorit saya di Bandung. Makanan itu adalah bubur ayam.

Orang Bandung tentu tak terima kalau Bandung dibilang tak punya tukang bubur ayam. Bubur ayam tersebar di mana-mana. Di pinggir jalan, di kantin kampus, dekat kosan, hingga kafe yang lebih elit. Dijual pagi hingga malam. Tapi sayang, bubur ayam Bandung tidak seperti bubur ayam yang selama ini saya kenali.

(lagi…)

Masyarakat Sunda tentu lebih tahu bagaimana menerapkan pendidikan anak dengan media permainan. Hal tersebut dikarenakan dalam tradisi Sunda, dikenal aneka ragam permainan anak. Permainan atau kaulinan dimainkan anak-anak di waktu senggang mereka di sekolah, sore hari sebelum maghrib, atau hari minggu. Mereka bermain bersama, baik hanya laki-laki atau perempuan, atau berbaur bersama.

Uniknya, banyak permainan yang namanya diambil dari nama binatang. Mulai dari ucing-ucingan (kucing), hahayaman (ayam), oray-orayan (ular), hingga permainan yang disebut paciwit-ciwit lutung dengan mencatut jenis seekor kera. Penamaan itu bisa jadi realistis karena pada prakteknya, banyak meniru tingkah laku dari nama binatang yang dicatutnya itu.

(lagi…)

Oleh : Reza S. Nugraha

Pada arti yang sebenarnya, menulis dapat diartikan sebagai proses membuat coretan—lazimnya disebut tulisan—dengan menggunakan alat tertentu dengan media tertentu pula. Jadi, sebenarnya menulis adalah aktivitas yang mudah, bahkan hampir setiap orang bisa dan sering menulis. Ibu rumah tangga biasa menulis resep masakan atau daftar belanja. Pemilik warung biasa menulis kas bon pembelinya. Hingga pelajar yang hampir setiap hari melakukan kegiatan menulis.

(lagi…)

Halaman Berikutnya »