Tiba-tiba saya ingat ibu. Ibu saya yang sedang berada di rumah nun jauh dari tempat saya menggali ilmu. Biasanya, setelah magrib seperti ini, ibu sedang memegang al-Quran dan membacanya. Setelah itu, tentu banyak hal yang dilakukannya. Bercengkrama dengan ayah dan satu-satunya kakak saya.
Bagi saya, ibu adalah manusia yang paling pertama saya cintai. Bukan sekedar merujuk sebuah hadits Rasulullah Saw (riwayat Abu Hurairah dalam Shahih Muslim) bahwasanya orang yang patut dicintai pertama kali adalah ibu—bahkan Rasul menyebut ibu hingga tiga kali barulah setelah itu ayah, namun juga karena selama hidup ini saya banyak merasakan kehangatan kasih ibu yang nilainya tak berhingga.
Bangsa Indonesia adalah bangsa besar dengan pluralitas suku, budaya, dan agama. Konon, selalu didengung-dengungkan bahwa ujung tombak perjuangan dan masa depan bangsa ini terletak pada pemuda sebagai harapan bangsa. Bukan berniat melemahkan, namun keadaan nyata menunjukkan perilaku segelintir pemuda malah membawa rasa pesimistik di antara pemuda itu sendiri. Oknum tersebut, misalnya, tergabung dalam geng motor yang selalu membawa aksi brutal, pelaku tindakan kriminal, dan lain-lain.
Mendengar kata pemuda, tentu stigma yang muncul adalah pemuda sebagai harapan bangsa. Pemuda dengan ‘kemudaan’ jiwanya mampu melahirkan sejuta prestasi dan mewujudkan kepemimpinan yang ideal bagi kemajuan bangsa. Sayangnya, saat ini jargon tersebut agaknya dikacaukan dengan perilaku segelintir pemuda yang lama-lama dikhawatirkan menjadi satu penyakit bagi bangsa ini. Bahkan, hal tersebut dapat menimbulkan rasa pesimistik bagi para pemuda itu sendiri.
Rabu, 30 September 2009
Kalau disebut-sebut jaringan teroris semacam Noordin M Top lebih senang merekrut anak muda, saya (agak) setuju. Kenapa? Karena sebagai anak muda, saya pernah mengalami setidaknya dua tindak terorisme atas nama agama. Hal tersebut saya alami ketika pertama kali mengenal Kota Bandung.
Pagi tadi, saya hendak membayar tagihan air di PDAM. Setibanya di sana. lobi kantor tampak sepi. Loket-loket kosong melompong. Itu tandanya, saya tak perlu mengantre seperti biasanya awal bulan. Dapat dipastikan, waktu transaksi kali ini tak lebih dari satu menit. Syukurlah.