Oleh : Reza Sukma Nugraha
Bangsa Indonesia adalah bangsa besar dengan pluralitas suku, budaya, dan agama. Konon, selalu didengung-dengungkan bahwa ujung tombak perjuangan dan masa depan bangsa ini terletak pada pemuda sebagai harapan bangsa. Bukan berniat melemahkan, namun keadaan nyata menunjukkan perilaku segelintir pemuda malah membawa rasa pesimistik di antara pemuda itu sendiri. Oknum tersebut, misalnya, tergabung dalam geng motor yang selalu membawa aksi brutal, pelaku tindakan kriminal, dan lain-lain.
Mendengar kata pemuda, tentu stigma yang muncul adalah pemuda sebagai harapan bangsa. Pemuda dengan ‘kemudaan’ jiwanya mampu melahirkan sejuta prestasi dan mewujudkan kepemimpinan yang ideal bagi kemajuan bangsa. Sayangnya, saat ini jargon tersebut agaknya dikacaukan dengan perilaku segelintir pemuda yang lama-lama dikhawatirkan menjadi satu penyakit bagi bangsa ini. Bahkan, hal tersebut dapat menimbulkan rasa pesimistik bagi para pemuda itu sendiri.
Rabu, 30 September 2009
Kalau disebut-sebut jaringan teroris semacam Noordin M Top lebih senang merekrut anak muda, saya (agak) setuju. Kenapa? Karena sebagai anak muda, saya pernah mengalami setidaknya dua tindak terorisme atas nama agama. Hal tersebut saya alami ketika pertama kali mengenal Kota Bandung.
Pagi tadi, saya hendak membayar tagihan air di PDAM. Setibanya di sana. lobi kantor tampak sepi. Loket-loket kosong melompong. Itu tandanya, saya tak perlu mengantre seperti biasanya awal bulan. Dapat dipastikan, waktu transaksi kali ini tak lebih dari satu menit. Syukurlah.
Menjelang siang, perut keroncongan. Berhubung belum sarapan, maka saya mengajak sang kekasih makan di Pujasera kampus. Kami memilih makanan berbeda, saya sendiri memilih lontong kari. Makanan di Pujasera beraneka ragam dan harganya relatif terjangkau.